Aku  bukan diri mu

Aku bukan diri mu

  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 11, 2020
Di sebuah Sekolah Menegah Pertama terdapat sebuah murid Yang cukup pintar,dia mengikuti Exul yg Di dominasi oleh perempuan,Yaitu PMR. Sejak saat itu dia Sering di Bully Oleh teman-teman laki-laki nya.Karena dia menjadi Seorang Murid laki-laki satu-satunya Yang mengikuti Exul PMR.
All Rights Reserved
#53
stopbullying
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DEFENDER [End]
  • REIN
  • The fair school || Selesai ✓
  • My Promise
  • Kita Yang Masing Masing
  • Andai Aku Tak Dilahirkan
  • Don't judge people by their physical appearance

©2019 Story by Dallas_93 . . . . . MY 1ST TEEN STORY Tak pernah ada kata terucap dari mulut Davian tentang apa yang selalu dilakukannya terhadap Safaa. Gadis cupu dan dicap sebagai nerd di SMA Pelita Bangsa yang selalu menjadi bahan bullyan di sekolahnya. Kalau Safaa dihina, Davian datang menghalau. Kalau Safaa disakiti, Davian datang menolong. Kalau Safaa dipermainkan, Davian datang menghentikan. Bahkan, ketika Safaa dipermalukan, tubuh tegap Davian hadir melindungi Safaa. Banyak hal yang sudah dilakukan Davian untuk Safaa, namun sekalipun tak pernah terucap dari bibir Davian, bahkan hanya untuk sekedar berbasa-basi menyapa Safaa. Di hari-hari biasa, ketika mereka berpapasan, Davian menampilkan sikap seolah ia dan Safaa tidak pernah saling mengenal. Namun, ketika sesuatu terjadi pada Safaa, Davian akan hadir di barisan paling depan untuk menolong Safaa. Banyak hal yang harusnya ditanyakan oleh Safaa, namun hal itu tidak berani Safaa utarakan. Hingga ia, hanya mampu menganggap Davian sebagai pelindung sekaligus pembela dirinya. Namun hatinya, berkata lain. Benarkah hanya itu saja? --- "Aku perlu kejelasan," ucap Safaa sambil menunduk pada Davian yang sedang berdiri di hadapannya. Davian hanya terdiam, sambil menautkan satu alisnya. "Kejelasan?" Safaa mengangguk. "Atas sikap kamu selama ini." Mendengar itu, Davian tersenyum tipis. "Biarkan Tuhan yang memberi kejelasan, tunggu saja ya, paling telat lima tahun lagi kita bertemu di pelaminan," kata Davian santai, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Safaa yang mematung dibuatnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines