We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Asupan Hati

Asupan Hati

  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 25, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Pernah nggak sih, kalian merasa selalu merasa terkendala untuk menyelesaikan sesuatu? Rasanya sesuatu itu berat banget, dan tidak akan bisa diselesaikan. Berasa jalan ditempat. Belum lagi lihat orang lain atau teman terdekat sudah jauh melangkah di depan kita. Jika kamu merasakannya. Tenang kamu tidak sendirian Akan ku tuliskan sebuah kisah yang benar-benar membuatku termotivasi dan bangkit kembali ketika dalam kondisi down / jatuh mental
All Rights Reserved
#52
kedamaian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sudut Luka Nazea
  • pengendali hati
  • psychologycal
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Dalam Kepalanya yang Tak Pernah Hening
  • Sepotong Kekosongan [ THE END ]✔︎
  • UNREQUITED LOVE
  • Savero Archandra || Haechan || END
  • Letters for Self

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines