Tentang Jawa

Tentang Jawa

  • WpView
    LECTURES 323
  • WpVote
    Votes 74
  • WpPart
    Chapitres 17
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., oct. 5, 2020
" Benar, apa yang pepatah pernah bilang jangan menilai seseorang dari sampulnya saja " Bercerita tentang seorang gadis bernama lengkap "Jawa maharani" mempunyai sifat yang tengil dan terkadang suka semaunya sendiri. tetapi adakah yang tau kalau kini takdir sedang mempermainkannya. Orang yang paling di percayai olehnya orang yang pertama kali mendengar keluh kesahnya,ternyata telah menyembunyikan fakta terbesar dalam hidupnya!. Satu fakta lagi! bertemu dengan seorang laki laki bernama "alam anggara" adalah bencana terbesar baginya. Mengandung unsur dibawah ini. !!! [ humor, sad, sahabat, pengorbanan ] # AKAN DI REVISI SETELAH CERITANYA TAMAT # * * * * NB : Tidak Ada Unsur Memaksa Untuk Membaca Cerita Ini.
Tous Droits Réservés
#57
patah
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • FARZAA
  • Ketos Vs Adek Kelas
  • PaSuTrik (Pasukan Suami-istri Prik)
  • Ayesha Transmigration
  • ALVIN (On Going)
  • kiara's dream
  • NOW.
  • My Duchess / End
  • BALAS DENDAM! ✔
  • Badgirl Vs Ketos(ongoing)
FARZAA

"Kenapa di nama panggilan lo, huruf 'A' yang terakhirnya ada dua?", kata gadis itu sambil menengok orang yang ditanyanya barusan, yang kini tengah berada di sampingnya. Ia sempat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis yang berada di sampingnya itu. Pasalnya hanya dia yang memerhatikan namanya dan berani bertanya kepadanya. "Ngapain lo mikirin nama gue? Gak penting banget." Jawab Farzaa akhirnya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Gue pokoknya harus tahu, guamamnya dalam hati. "Eh iya sih, yang penting kan, kita bisa menghasilkan uang, kita punya uang, dan kita juga bisa menikmati uang kita." gadis itu tertawa sebelum mengucapkan kalimatnya yang baru ia lontarkan. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari gadis itu barusan, tapi ia bersikap seolah biasa saja dan berkata "Gak semua orang bahagia karena uang. Dan gak seharusnya juga lo terus jadiin seolah-olah uang adalah segalanya dan uang sebagai pemeran utama dalam kehidupan lo". Gue harus ubah cara pikir lo, batinnya. Sebelum gadis itu menjawab, ia melanjutkan perkataannya. "Uang itu salah satunya. Bukan satu-satunya", ia tersenyum dan berbicara setenang mungkin. "Lalu apa?", balasnya dengan gugup setelah mendengar penuturan laki-laki di sampingnya, yang ia sendiri tidak menyangka tanggapannya akan seperti itu. "..."

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu