We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
AINE
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Sep 13, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Cerita ini masih berantakan banget tapi jujur niat saya cuma untuk mengingatkan bahwa kita harus menyambut uluran tangan orang-orang yang sedang depresi sebelum mereka semakin hanyut akan perasaan dan pikiran mereka yang sedang tidak stabil. Dan untuk orang-orang yang sedang berjuang untuk sembuh dari depresi : Kita semua punya perasaan tidak stabil dan salah satu cara untuk menstabilkannya adalah dengan membagikannya kepada orang lain. Ditulis pada tanggal 10 September 2020 bertepatan dengan hari pencegahan bunuh diri sedunia.
All Rights Reserved
#299
imagination
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • I Love You Dilan (End)
  • SweetTalk
  • Despair Or Rise [Completed] - REVISI
  • Romeo & Juliet | Jaewoo ✔
  • ANERA : How To Make Her Stay Alive? (TAMAT)
  • Mute Villainess
  • Dersik.
  • Garis Luka
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines