We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
STARKEN [THE MEMORY]

STARKEN [THE MEMORY]

  • WpView
    Reads 46
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 27, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Bagaimana rasanya jika bisa mempunyai kemampuan mengingat yang luar biasa? Akan sangat menyenangkan bukan jika kita bisa mengingat segalanya dalam sekali lihat dan dengar. Tapi bagaimana jika kemampuan itu membuatmu susah melupakan sebuah tragedi besar yang seharusnya kamu buang dan hilangkan jauh-jauh dari hidupmu? Dan semua memori buruk itu tersimpan di otakmu dan malah membuatmu semakin gila? Itulah yang dirasakan oleh Alethea Queen Annalise. Gadis malang yang harus menerima kenyataan pahit itu. orang tuanya memutuskan untuk tidak membiarkan Alea keluar dari rumahnya yang dipenuhi dengan penjagaan yang ketat. Hari demi hari kehidupan Alea dihabiskan dengan kegilaan yang selalu terputar diotaknya, bahkan tubuhnya semakin melemah, apakah ia bisa bertahan? ataukah ia menyerah saja pada hidupnya yang sungguh tak berguna ini? "Sometimes forgetting is better than remembering" "and sometimes letting go is better than having something you just have to give up." -DustyCigaratte
All Rights Reserved
#173
alterego
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALZEA : FEATURED SOULS [END]
  • Dream World
  • Laugh & Clues (Hiatus)
  • Criminal
  • LIFE LINE | Of Blood, Love, and Loyalty
  • Ravenwood's Last Omega
  • Dek Istri 21+
  • Hurt Love
  • Anomaly
  •  True Love  Of A Agent

Algesa liar, berantakan, dan terlalu akrab dengan kehancuran. Zea cantik, tapi matanya menyimpan luka yang tak bisa dijelaskan. Orang-orang berkata hidup adalah soal pilihan. Tapi bagi Algesa Axeliano Ravanaugh, hidup hanyalah sisa napas dari keputusan orang lain. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan, apalagi tumbuh besar di rumah yang dipenuhi darah, teriakan, dan kebohongan. Setiap langkah yang ia ambil adalah pelanggaran. Bocah pemberontak yang menantang dunia karena dunia lebih dulu menghancurkannya. Ia melawan. Melawan dunia yang telah merenggut Bundanya. Melawan ayah yang seharusnya sudah terkubur sejak lama. Malam itu, di jembatan tua yang dingin menusuk tulang, Algesa tidak mencari apa pun. Ia hanya ingin diam. Tapi justru di sana, dalam gelap yang lengang, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, sepasang mata yang tak asing. Bukan karena ia mengenalnya. Tapi karena luka yang tersembunyi di balik sorotnya terasa terlalu akrab. Zea. Ia bukan gadis baru. Bukan pula gadis baik-baik. Tapi ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam diamnya yang membatu, yang membuat Algesa terus melangkah. Bukan karena ia cantik. Tapi karena ia rusak. Sama seperti dirinya. "Kenapa... lo nolongin gue?" tanyanya lirih, tubuhnya gemetar tak hanya karena dingin, tapi juga karena luka yang terlalu lama disimpan. Algesa menatapnya lama, diam tanpa ekspresi. Petir menyambar di kejauhan, memperjelas gurat tajam di wajahnya yang basah. Tapi kemudian sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai kecil, dingin, ambigu, tapi entah mengapa terasa jujur. "Mungkin karena gue suka ngerusak hal-hal yang hampir rusak." ALZEA : 05. April. 2025 By : Rossa Ig : @rossaroxie @_chaterinee

More details
WpActionLinkContent Guidelines