365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
Aku tidak menulis ini untuk semua orang.
Hanya untuk mereka yang diam-diam merasa hilang... tapi tidak tahu ke mana harus pulang.
Satu Hari. Satu Puisi. Selama 365 hari.
Tanpa jeda.
Tanpa alasan berhenti.
Pada awalnya, ini hanya niat sederhana-
menulis, lalu selesai.
Namun semakin hari bergulir,
aku mulai curiga:
barangkali bukan aku satu-satunya yang menulis di sini.
Ada sesuatu yang ikut menyusup
di antara kata-kata-
sesuatu yang lebih tahu tentang luka
daripada yang berani kita akui.
Mungkin kau pernah merasakannya:
hidup tampak utuh... namun kosong.
tawa terdengar... namun hampa.
dikelilingi banyak orang... namun tetap sendiri.
Jika iya,
mungkin buku ini akan terasa terlalu dekat.
Setiap hari, satu puisi-
tentang luka yang tak sempat diberi nama,
tentang rindu yang tak pernah menemukan alamatnya,
tentang doa-doa yang hanya berani hidup dalam diam.
Ini bukan sekadar buku.
Ia lebih menyerupai jejak-
atau mungkin... pengakuan.
Dan anehnya,
beberapa orang bersumpah
bahwa ada bagian di dalamnya
yang terasa seperti ditulis khusus untuk mereka.
Kebetulan?
Atau sesuatu yang lain?
Mulailah dari hari pertama.
Jika tak ada yang kau rasakan,
kau bebas meninggalkannya.
Namun jika kau memilih bertahan...
bersiaplah.
Sebab bisa jadi,
yang perlahan berubah bukanlah kata-kata itu-
melainkan cara kau memandang dirimu sendiri.