Lelaki Venus

Lelaki Venus

  • WpView
    LECTURAS 263
  • WpVote
    Votos 8
  • WpPart
    Partes 5
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, sep 20, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Kisah ini tentang seorang perempuan yang suaminya penyuka sesama jenis. Haruskah ia berjuang mendapatkan cinta suaminya atau menyerah? Seperti menggenggam bara api. Jika digenggam tangan kita terluka. Jika dilepas ia akan membakar segalanya. Akankah dia berubah?
Todos los derechos reservados
#744
islam
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • Serius, Kita Cuma Temen Kost?
  • obsesi seorang mantan pacar
  • Imam Untuk ZAHRA [Sudah Revisi]
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • Cinta di Sepertiga Malam Terakhir [END]
  • Bukan Negeri Dongeng (END)
  • Cahaya Di Ujung Penantian
  • A B I A N : Insaf Boy  [END]
  • My Perfect Husband

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido