~Dia Bukan Takdirku~

~Dia Bukan Takdirku~

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 24, 2020
•••••• Aku mencintai seseorang yang mungkin tak akan kumiliki.Tapi kenapa rasa ini semakin menggelora ketika kulihat senyum manis yang dia lemparkan ke arahku saat itu. Apa yang sedang tejadi padaku kenapa rasa lemas ini menyelimuti seluruh tubuhku. Bukan maksud menolak,tapi memang ini sudah menjadi takdirnya. Berpaling adalah hal buruk yang pernah kulakukan. Serasa ingin dikejar dan diperhatikan. Namun semua itu mustahil, karna memng hal itu tidak seharusnya terjadi. Aku tidak tau rasanya kepadaku,apakah sama atau tidak sama sekali. Apa yang kulihat belum tentu baik untukku. Ada kalanya aku harus berhenti mengejar dia yang bukan takdirku. Namun hati memberontak,tak terima dengan semua hal ini. Berlari adalah jalan terbaik Namun di posisi ini aku tak tau harus kemana ,aku tak tau arah untuk berlari. Akankah dia yang bukan takdirku menjadi milikku , ketika hati ini meminta hal kecil untuk diperhatikan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • Rendra & Lila [END]
  • He Is My Husband (Selesai season 01)
  • Gairah Terlarang Karena Ceritamu
  • Hubungan dalam Kerumitan (End)
  • Pengantin Bayangan (SELESAI)
  • The Love Story" Kurus & Mancung"
  • Terkulai Tapi Tak Layu
  • Perfect Love (Angkasa Kehidupan_Completed✔)
  • I Love You

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines