[SUDAH GANTI JUDUL] Secara kasat mata, kehidupan Kaisan memang tampak lebih dari baik-baik saja. Berharta, memiliki teman banyak, dan tidak kekurangan kemewahan. Hanya saja, yang tidak mereka tahu adalah kenyataan pahit bahwa sebenarnya selama ini Kaisan tenggelam dalam lautan lara, sepanjang hidupnya. Singkatnya, Kaisan sangat kesakitan dan jasadnya terus menerus mengambang di lautan lara itu. Ada suatu titik, dimana Kaisan merasa bahwa ia berhasil berenang keluar dan menyelamatkan diri dari lautan yang terasa gelap dan menyakitkan. Namun, titik yang terlihat cerah itu pun hanya ilusi. Kaisan memang berenang menuju atas tapi ia tak pernah keluar. Ia hanya seolah mengapung diantara lautan dan daratan, tanpa pelampung, terombang-ambing bebas. Itu...tragis dan menyakitkan. "Gue hancur, gue berantakan, Kas, saat gue tahu, saingan gue bukan perempuan lain, tapi rasa lelah lo sama hidup lo sendiri. Lo yang putus asa dan gak ingin hidup lebih lama, itu saingan terbesar gue Kas."-Kaluna. "Gue kehabisan tenaga, gue udah terlanjur hancur untuk susun lagi puing hidup gue yang berantakan. Gue, nyerah. Gue gak pernah bisa keluar dari lautan lara ini. Terlalu sakit, terlalu menyiksa."-Kaisan. "Bagi gue hanya ada dua pilihan, Kaisan. Gue rela, entah itu kita tenggelam bersama atau kita selamat dari lautan menyakitkan itu. Dengan hidup dan mati gue, kalaupun gue gak cukup mampu untuk bebasin lo dari sana, maka gue akan di samping lo. Kita sesak bersama. Tenggelam bersama. Asal, gue gak kehilangan lo lagi. "-Kaluna
More details