(DALAM PROSES PENERBITAN)
(BEBERAPA PART DIHAPUS)
-
"Aku hamil, Pa.." Kata Seruni.
Shit.
Aku hampir meloncat dari sofa karena saking kagetnya.
Papa seketika melotot. "Runi, kamu jangan bercanda, ya!"
Adikku menghela nafasnya. "Kita semua kumpul kayak gini, bukan untuk dengerin aku bercanda, Pa.. aku benar hamil; anakku dan mas Sena.."
Mama langsung megangin dadanya yang sepertinya tiba-tiba sesak.
"Sen?" Aku menatap Sena yang ada di sebelah Seruni. "Bener?!!"
Nawasena tampak bergeming. Kemudian, dia menghela nafas panjang. "Bener, Ra.."
Aku langsung mengambil sapu rumah, hendak menghajar Nawasena yang kemudian langsung bangkit dan berlari keluar rumah. Disusul Seruni yang nggak tahu lagi harus berbuat apa selain melindungi Ayah dari calon bayinya.
Semenjak saat itu, rasanya waktu berlalu sangat cepat. Semuanya sibuk mempersiapkan pernikahan Seruni dan Nawasena, sampai suatu hari, aku harus duduk berdua dengan Papa dan Mama membicarakan suatu hal.
Kami bertiga terdiam cukup lama, sampai akhirnya Mama membuka suara.
"Arawinda.. kamu juga harus segera menikah,"
Semenjak saat itu juga, hari-hariku nggak lagi sama.
-
9096 adalah karya saya yang ketiga. Menaruh harapan pada genre komedi romantis, semoga karya saya satu ini bisa menghibur semuanya.
Mungkin bukan senyum geli, atau bahkan gelak tawa. Yang saya harapkan, cerita ini tetap bisa menjadi pesan yang memberikan arti. Sekecil apapun itu.
Selamat membaca!
Siapa yang menyangka jika hidup Mira akan berubah kala dokter mengatakan jika dirinya tengah hamil.
Hamil sosok bayi dan bukanlah sisa makanan yang telah dimakannya selama ini.
Tidak... Tidak... Mira tidak ingin semuanya terjadi seperti ini.
Hidupnya sudah sempurna dan bayi ini bukanlah salah satunya.
Tidak jika bayi ini adalah hasil pemerkosaan dari pria bajingan brengsek itu.
Hidupnya tidak akan setragis ini bukan ?
*-*-*
Dalton berdiri dari tempatnya dan hendak mendekati Amira. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Amira hendak memberikan ciuman.
Sebelum akhirnya Amira meludahi wajah Dalton yang membuat pria itu menghentikan tubuhnya dan memejamkan matanya.
"Kau bajingan brengsek! Kau harus tau jika aku akan mengingat hal itu sampai kapanpun" ucap Amira tajam yang membuat Dalton menegakkan tubuhnya.
Pria itu mengusap ludah dari wajahnya dan menatap Amira dengan senyuman tipisnya.
"Kau benar-benar wanita sialan, Amira. Tapi apapun yang kau katakan tidak akan mengubah kenyataan"
Amira semakin terdiam ketika menatap senyuman di wajah Dalton semakin terlihat menyeramkan lebih dari apapun.
"Dan kenyataannya kau akan terikat dengan Bajingan Brengsek ini mulai sekarang"