MELODI SABILULUNGAN KAHIRUPAN

MELODI SABILULUNGAN KAHIRUPAN

  • WpView
    Reads 11,169
  • WpVote
    Votes 419
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadComplete Sat, Feb 17, 2024
1963. Aku menari di lingkaran kolotnya pemikiran, menanam pohon impian yang tak sama sekali bisa tumbuh. Berjalan mengitari ruas roda, terjebak dalam putaran patriarki. Citaku, menjadi Ibu Kartini, tetapi apa daya; lingkungan menjajah diriku. Liukan angin kesuksesan menerpa jantungku, tetapi apa daya; potensi tergerus kasta sosial. Alasan konyol; memang zaman biadab. Orang bodoh dianggap pintar, orang pintar dianggap bodoh. Anak perempuan tumbuh menjadi gadis, menikah, memiliki keturunan lalu meninggal, terperangkap di ruang nekrosisnya dangkal pikiran. Masa depanku terkilir, ini bukan zaman tepat untukku. Hanya ada luka batin, dipecut rantai manusia kotor. Empedu duniawi ku makan, tergenang obat dalam jiwaku, beradaptasi dengan gilanya hidup. Spontan aku berbicara, "Celaka diriku---yang mempunyai mimpi setinggi langit---." Apakah seorang Wanita di negeri ini; tidak boleh menjadi dokter? Alangkah merakbal semuanya; melodi kehidupan mengiringi kakiku melangkah. Tanah Pasundan menjadi saksi bisu sebuah iring-iringan cengkraman angkara murka stigma tua. Tak terpikir, darah perjuangan dibalas darah kenestapaan dan kehancuran ideologi. Ikuti kisahku; memancarkan fosfor di pikiran manusia agar bisa bertumbuh ... dalam Melodi Sabilulungan Kahirupan. Akan aku buktikan; tahun 2000, aku sudah menggapai langit dengan tanganku. [AMBIL BAIKNYA, BUANG BURUKNYA:)]
All Rights Reserved
#101
perceraian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ILUSI dan MIMPI
  • Dunia Selalu Ingin Bercanda
  • Membumi(Tamat)
  • DANDELION (Aku bukan Orang Ketiga)
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • Mahligai Cinta [END]✓
  • Langit Langit Damaskus Bersaksi
  • ONLY SIX BOYS
  • Kesempatan Kedua
  • Narasi patah hati

"Za,kalau besar nanti kita pacaran yuk." Ucap Haidar kecil di umurnya yang masih 5 th. "Kata Mama kamu, pacaran itu gak boleh.Orang muslim gak boleh pacaran loh." Jawab Zahira dengan nada yang masih kekanak-kanakan. "Ya Sudah,ayo kita menikah saja." Ucap Haidar dengan ekspresi polosnya. "Kata Mama kamu juga, kita gak boleh menikah kalau belum punya kartu KTP." Zahira menjelaskan tidak kalah polosnya dengan Haidar. "KTP namanya Za, bukan kartu KTP." Haidar tertawa, membenarkan ucapan Zahira kecil. "Sama saja,pokoknya Mama kamu bilang begitu." Zahira menggelembungkan pipi chubby nya dan sesekali melirik Haidar yang masih bermain pasir di pantai bersamanya. "Kok kata Mamaku semua sih,Za.Sebenarnya yang anaknya itu Aku atau kamu sih!" Haidar sama kesalnya dengan Zahira. "Entah,kamu kan gak pernah dengerin kalau sedang dinasehati Mama kamu.Mungkin Mama kamu lebih suka Aku daripada kamu." Zahira menjawab asal menaikkan bahu sembari menertawakan Haidar. *** Bagaimana jika masalalu yang telah kau lupakan kembali lagi di kehidupanmu? Apakah kau akan kembali ke masalalumu atau menerima dia yang tidak kau cintai. Dan Bagaimana cara kau menyikapi masalalu yang menyakitimu dan membangun masa depan dengan seseorang pilihan orang tuamu(?)

More details
WpActionLinkContent Guidelines