Hi, Ghost Friend!

Hi, Ghost Friend!

  • WpView
    Reads 144
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 2, 2022
WpInfo
Fiction
Horror
Menyayangi seseorang itu wajar. Tapi bagaimana dengan menyayangi sesosok yang tak kasat mata? Sesuatu yang mustahil dan tak masuk akal. Tapi bagi Laura, itu juga hal wajar. Laura Nela, gadis yang memiliki kelebihan yakni mampu melihat apa yang tak dapat dilihat oleh manusia biasa. Kemampuan itu sudah ia miliki sejak ia kecil, namun ketika dia menginjak usia 15 tahun kemampuannya itu hilang, alhasil dia dapat hidup seperti manusia pada umumnya, yang dulu bermain bersama makhluk-makhluk tak kasat mata tapi tidak ketika dia menginjak usia 15 tahun. Dia bisa bermain dengan teman sebayanya tanpa rasa was-was akan bertemu makhluk-makhluk itu. Namun, semua berakhir setelah 2 tahun. Entah apa yang terjadi, sesuatu tiba-tiba menyerangnya. Makhluk-makhluk itu kembali. Tapi bukan cuma itu. Sesosok makhluk tak kasat mata berhasil membuatnya nyaman. Namun kenyamanan itu hanya sementara, karena berganti dengan luka. 'Hi, Ghost Friend!'
All Rights Reserved
#71
laura
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • Ketika Cahaya Menyapa
  • No Soul : Beyond The Gate
  • MYSTERY OF MY SCHOOL [COMPLETED]
  • PERCAYA? [END]
  • MATA BATIN ✓
  • ALSTARAN [END]
  • Setelah Koma
  • The Way You Looked at Me

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines