Adam 1974

Adam 1974

  • WpView
    Reads 156
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 20, 2025
Tahun 1974. Seorang pemuda yatim berusaha melawan ketidakmungkinan ketika sebagai siswa Sekolah Tinggi Mesin mendaftar ke Institut Teknologi Bandung. Pada jaman itu, Presiden Soeharto menggalakan Repelita yang mewajibkan semua siswa STM dan SMK bekerja 2 tahun setelah lulus. Tak punya uang, tak pernah belajar apa yang dipelajari anak sekolah menengah atas secara umum, di tengah keadaan sosial yang tidak menentu akibat kepemimpinan baru Orde Baru, kepala sekolahnya lantas menyuruh ia menghadap rektor ITB saat itu untuk mengizinkannya mengikuti tes masuk. Nothing to lose. Pemuda itu percaya, bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin. Inilah kisahnya. Novel ini terinspirasi dari kisah nyata.
All Rights Reserved
#540
pemuda
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MY LIFE AFTER GRADUATION
  • Gue (Nggak) Jelek! [Completed]
  • Monolog Seorang Psikopat
  • THE NEW GIRL 2: ILLUSION [SELESAI]
  • Cahaya Fajar [SELESAI] ✔️
  • 𝐇𝐄𝐊𝐒𝐀𝐕𝐈𝐀𝐍
  • Cerita Cinta SMA [TAMAT]
  • REKSA: The Last Bell

Putra, seorang lulusan jurusan teknik dari Jakarta, baru saja merayakan kelulusannya dengan penuh semangat. Namun, euforia itu segera memudar saat ia dihadapkan pada realitas dunia pasca-kampus yang jauh dari bayangannya. Dengan ijazah teknik di tangan, Putra bermimpi menaklukkan dunia, tetapi malah tersandung pada kerasnya persaingan kerja, ekspektasi keluarga, dan kebingungan menemukan jati diri. Novel ini mengisahkan perjalanan Putra yang bertransformasi dari seorang insinyur penuh idealisme menjadi pribadi yang menemukan panggilan hidupnya di luar dugaan. Putra berjuang menyeimbangkan ambisi karier dengan tekanan kehidupan metropolitan. Dari wawancara kerja yang menegangkan hingga momen introspeksi di tengah kemacetan ibu kota, ia bertemu berbagai karakter yang mengubah pandangannya: sahabat setia yang selalu jadi penutup luka, seorang mentor tak terduga yang membuka wawasan, dan sosok inspiratif yang menggoyahkan rencana hidupnya. Di tengah tawa, kegagalan, dan kejutan, Putra menyadari bahwa masa depan yang ia cari mungkin bukan di bidang teknik, melainkan di jalan yang tak pernah ia prediksi

More details
WpActionLinkContent Guidelines