Why Me God?

Why Me God?

  • WpView
    MGA BUMASA 11
  • WpVote
    Mga Boto 1
  • WpPart
    Mga Parte 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Fri, Sep 25, 2020
Dunia tengah tertawa bahagia. Seolah semua cerita terukir manis ceria. Padahal sebelenggu tanya menangkis semua hal. Membicarakan seolah semuanya fakta ataukah hanya fatamorgana? Fisik, harta, tahta, dan kekuasaan kini menjadi pokok pembicaraan. Caci dan makian menjadi khalayak yang tak lagi tabu. Dunia seolah mengisahkan dirinya. Bagaimana rendah derajat yang acapkali sering menjadi persoalan tersendiri. Kata aku dan kamu tak lagi sama. Bumi kini menangis, menyaksikan diri seolah menertawakan harga diri masing - masing. Gurauan panas menjadi daya tarik kini, bermaksud lebih kuat namun ternyata hanya rapuh tersisa debu kasta. Kini ku tahu, bagaimana seribu satu jawaban asa yang Tuhan titipkan. Sejuta tangis tawa yang ku harapkan. Berbagai warna tanya terselip dalam doa. Aku tahu Tuhan itu ada. Dan ya, kini ku dapat menjawab semua gundah gulanaku selama ini. Titipan jawaban Tuhan, lewat ragaku yang penuh dengan pujaan tentang-Nya. *Update saat author free
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • PLUVIOPHILE || The Reason I Like Rain? [ON GOING]
  • AMERTA : The Last Embrace
  • Permainan Takdir [TAMAT]
  • Kisah Dari Langit
  • Behind the Chill of the Night Wind (HIATUS)
  • 𝐎𝐁𝐒𝐄𝐒𝐒���𝐈𝐎𝐍 [ 𝚂𝚕𝚘𝚠 𝚄𝚙𝚍𝚊𝚝𝚎 ]

🥀Cerita ini 100% karangan dari saya sendiri jadi mohon di hargain, jika memang tidak suka maka tidak usah di baca dan jika suka jangan lupa beri vote dan komen yaksss!!! ⚠️ INGAT DI LARANG PLAGIAT, COPY PASTE, MENIRU, MENJIPLAK, ATAU SEJENIS NYA. DON'T! Saya mungkin tidak tahu tapi allah tahu. Rintik hujan perlahan jatuh dari langit kelabu, tetesannya menimpa tanah kering dan retak, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang segera lenyap bersama debu. Namun tak lama, langit seolah tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuh seorang gadis yang berdiri diam di tengah kehancuran. Luka menganga di hampir seluruh kulitnya, darah mengalir perlahan, menyatu dengan air hujan yang mengalir di tanah. Namun ia tetap tak bergerak. Pandangannya kosong, tatapan hampa tanpa harapan, seolah jiwanya telah pergi jauh meninggalkan raganya yang lelah. Di sekelilingnya, dunia yang dulu penuh kehidupan kini tinggal puing dan arang. Tanah yang dulu dihiasi hamparan rerumputan hijau telah terbakar hingga hitam dan tandus. Pohon-pohon yang dulunya menjulang kokoh kini rebah, patah, dan hangus, tak menyisakan satupun daun yang selamat. Segala yang dulu indah, kini lenyap tanpa jejak, tersapu oleh sesuatu yang lebih kejam dari waktu, kehancuran yang tak memberi ampun. "Aku menghancurkan semuanya ... Aku seorang monster!" bisiknya lirih, dan setetes air mata mulai mengalir keluar dari ujung matanya, tak bisa dibedakan apakah itu air hujan atau air penyesalan. "Aku menyakiti orang-orang, aku membunuh orang tak bersalah ... Aku benar-benar seorang monster!" Air matanya menetes, bercampur dengan darah dan hujan. Dan dari bibir pucatnya, hanya satu kalimat yang terus berulang kali dia ucapkan, seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. "Maaf ... maafkan aku ... maaf ...." Dibuat : Rabu/13/April/2022 Selesai : ??? Written by :AYA_MNK ©hak cipta dilindungi Allah SWT

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman