Alara's Brothers (Telah Terbit)

Alara's Brothers (Telah Terbit)

  • WpView
    Reads 985,398
  • WpVote
    Votes 52,757
  • WpPart
    Parts 63
WpMetadataReadComplete Tue, Nov 23, 2021
"Siapa sih yang gak seneng punya Abang-abang ganteng kek patung pahatan Yunani? Pinter- pinter pake banget pula, seneng banget 'kan? Ada yang perhatiin, disayangin dan di kabulin apapun keinginan kita asalkan itu baik . Tapi gak bagi gue, punya Abang-abang ganteng buat otak gue serasa mau pecah. Gimna nggak coba?! Abang-abang gue ada 5,laki semua pula. Sebenarnya bukan itu yang jadi masalahnya, melainkan Abang-abang gue itu kelewatan posesif sama gue. Di tambah gue bakalan dihukum kalo ngelawan,parah banget gak sih? Harus ini lah, itu lah. Kalau gak, siep-siep aja kena semprot gue kalau gak nurut . Belom lagi masalah makan, pakaian, temen. Semua harus diatur dan sepengetahuan mereka. Mereka harus di seleksi dulu ,ngeri gak sih jadi gue? Bahkan nyokap bokap gue aja ngedukung. Bahkan lebih sadis dari Abang-abang gue. Serasa di penjara gue tiep hari." Nah, inilah kisah gue sama kelima Abang posesif gue .Kalau penasaran kuy mampir. Do'ain moga jadi anak nurut ma Abang Jum'at 25 September 20
All Rights Reserved
#469
kisahsma
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • Three Targeted Girls!!
  • ALEAGAS [END]
  • Three Idiot Girls  ✔
  • Aku Disini Kak! [End]
  • My possesive boyfriend
  • My Three Brothers [Terbit]
  • Family Line
  • LIGHT

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines