JIWANTA

JIWANTA

  • WpView
    Reads 66
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 25, 2020
Mata ku menyadari suatu hal sedari aku membaca kembali buku ku, yang ternyata lelaki dihadapanku ini telah memperhatikanku sedari tadi. Dia menatapku penasaran dan membuatku sangat gugup dan tidak tau harus berbuat apa hingga akhirnya ku berbalik menatapnya. Sontak saja, dia langsung memalingkan pandangannya berharap aku tidak mengetahui tingkahnya sedari tadi . Dia berjalan keluar pintu perpustakaan dan tak sadar aku memandanginya sampai ia menghilang dari balik pintu, aku menghembuskan nafas yang sedari tadi ku tahan karena lelaki itu. Tak terasa beberapa menit kelas siang ku akan dimulai, dan aku mulai berkemas dan menata buku untuk ku kembalikan ke rak buku perpus, namun ada satu benda kecil yang baru ku sadari saat aku berkemas yaitu bolpoin Kakak tingkat itu yang tertinggal dan langsung ku ambil. Terdapat tulisan nama yang jelas di bagian bolpoin berwarna hitam itu tertera nama yang akan selalu ku ingat "ABIAN" iya itu Namanya, seseorang yang manis yang mewarnai hidupku dari sekarang....
All Rights Reserved
#51
milla
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Penantian Hujan
  • L O O K S I M 독자 - [ REVISI ]
  • RANNA
  • Hidden Love | Mees Hilgers |
  • Lintasan Musim Semi (revisi)
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Good Girl or Naughty Girl (END) 🍁

Disaat ribuan kenangan yang tertinggal beberapa waktu lalu, ternyata belum terkubur jauh-jauh karena mungkin ini adalah kisah cinta yang terlalu cepat. Atau sebuah permainan kematian yang harus diselesaikan sebelum tgl 13 atau sebelum bulan purnama berakhir. Disaat semuanya diselimuti rasa takut, terjebak bersama iblis di sebuah rumah tua. "Mengapa pelangi itu cepat pudar? Hilang antah berantah tak ada kabar. Kini hati rindu resah, sulit tuk mengungkap rasa. Apakah hujan akan segera membawa kembali. Hati yang memantau cinta yang menanti." "Angin telah bertiup lalu, daun-daun kering menghilang sekejap..datang sekawanan debu yang menghalau mata bara api, hingga hadirlah secercah cahaya yang membuat bunga kembali berseri." Lalu kamu bukanlah Caesar, Mark Anthony atau pun Ptolomeus yang bengis dan sadis. Namun ini adalah kisah cinta seorang jurnalis yang manis dan sinis. Pertemuan singkat antara jurnalis muda dan arkeolog muda. Kekuatan dari segalanya tak akan berguna tanpa cinta. Aku ingat itu kawan. -Hujan kali ini membawaku pada kenangan sekaligus membawa kenangan itu pergi menjauh dariku. Itulah sebabnya aku menanti hujan reda-

More details
WpActionLinkContent Guidelines