"udah ku bilang jangan ditatap!" aku hampir saja berteriak pada papa ku dia ini saat yang lain sudah berusaha untuk keluar dari pagar tanpa ketahuan, dia malah dengan enaknya mengintip ke arah lapangan sekolah dengan waktu yang lama!.
"papa mau liat ini beneran ttg hal yg kamu blang atau ada pemeriksaan kesehatan" jawab papaku masih berusaha memicingkan mata agar dapat melihat dengan jelas.
.
.
"pa?, turun!" aku melihat ke dalam mata sosok papa ku yang sedang menaiki motor.
"kenapa?"
"papa kena!, kan sudah ku bilang jangan dilihat!, sekarang turun!!, aku berusaha mendorong tubuh papaku hingga dia terjatuh ke aspal.
matanya kini terlihat memerah di sekitar maupun di bola matanya, aku tidak tega, sungguh!, tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin aku mengorbankan seluruh anggota keluarga ku sekarang jika aku kekeuh akan membawa papaku pergi bersama.
"jangan Tinggalkan papa!" papa menahan stang motor yang ku ambil alih darinya, matanya benar-benar membuat ku bergidik ngeri, namun ku tahan untuk tidak menghiraukan nya.
"tinggalkan kami!!" aku membawa motor pergi, namun sebelum menjauh aku melempar sebuah kain yg sudah dilumuri minyak tanah dan sudah ku bakar ke arahnya.
"ku mohon jangan ikuti kami, papa!" di sela kobaran api yg mulai merambat aku dapat melihat dia menangis dengan mata merahnya, aku dan keluargaku lainnya juga melakukan hal yang sama. sambil melajukan motor aku tidak hentinya menangis.
aku memberhentikan motor di halaman rumah panggung, setelah berpikir keras, aku merasa tidak mungkin kembali ke rumah karena bisa saja papa pergi ke sana.
jadi disinilah kami.
baca cerita selengkapnya dg klik timbol baca!
All Rights Reserved