Story cover for ECAPALA by ELPEEDAKOO
ECAPALA
  • WpView
    Membaca 39
  • WpVote
    Vote 4
  • WpPart
    Bab 4
  • WpView
    Membaca 39
  • WpVote
    Vote 4
  • WpPart
    Bab 4
Bersambung, Awal publikasi Sep 27, 2020
Sangat sulit menemukan zona nyaman dalam bersosialisasi. Tidak mudah berhadapan dengan bermacam sifat yang oranglain miliki. Entah kenapa kenyamanan itu telah ku temukan. Bersama orang-orang yang tidak sepenuhnya baik, tapi penuh kasih. Ini tentang perjalananku bersama orang-orang baru yang tidak ku kenal sama sekali. Mencoba melakukan pendakian walau dengan keterbatasan kekuatan fisik. Lemah tidak jadi masalah, asal kamu mengerti cara mengatasinya. Ini tentang kisah pendakian kami. Dalam lingkar pertemanan yang kami sebut dengan Ecapala.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan ECAPALA ke perpustakaan Anda dan menerima pembaruan
atau
#34pendakigunung
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
Lembah Arunika  oleh uyungfauziyah
17 bab Lengkap
Dina hanya ingin lari sejenak. Dari rumah. Dari kampus. Dari masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Maka ia mengajak empat temannya-Bagas, Ayu, Raka, dan Tari-untuk mendaki Gunung Mahesara, gunung yang katanya penuh legenda, namun jarang tersentuh wisatawan. Lima remaja dari latar dan budaya berbeda, menyatu dalam perjalanan menuju puncak. Awalnya, ini hanyalah perjalanan tentang alam, peluh, dan keheningan hutan. Namun segalanya berubah ketika mereka menemukan sebuah percabangan jalur: satu jalur resmi, satu lagi tertutup semak dan larangan. Dari sinilah semuanya bermula. Kabut turun. Kompas tak lagi bekerja. Hutan mulai berbicara. Mereka tersesat di tempat yang tak ada dalam logika-Lembah Arunika, dunia tersembunyi yang hanya muncul bagi mereka yang memikul beban tergelap. Di lembah itu, sihir bukan dongeng. Makhluk gaib dari mitologi lokal bukan sekadar cerita rakyat. Mereka nyata. Hidup. Dan menjaga keseimbangan dunia yang mulai retak. Kelima sahabat ini harus menghadapi rintangan demi rintangan-bukan hanya melawan kekuatan jahat yang mengancam lembah, tetapi juga menghadapi sisi tergelap dalam diri mereka masing-masing: kemarahan, penyesalan, ketakutan, dan kesalahan yang tak pernah mereka maafkan. Dalam perjalanan yang penuh luka dan kehilangan, mereka mulai bertanya: Apakah lembah ini benar-benar dunia lain-atau justru cermin dari hati yang terluka dan ingin disembuhkan? Dan di tengah kabut yang tak kunjung sirna, satu pertanyaan terus bergema: Apakah mereka akan menemukan jalan keluar-atau justru menjadi bagian dari lembah itu selamanya?
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 8
Lembah Arunika  cover
memories never die cover
Hargo Dalem cover
Elegi Di Atap Sumatera Series cover
Gunung Kematian (TAMAT) cover
SEWU DINO (1000 HARI) cover
A Love to Him (Belum Revisi) cover
Dekapan (TAMAT) cover

Lembah Arunika

17 bab Lengkap

Dina hanya ingin lari sejenak. Dari rumah. Dari kampus. Dari masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Maka ia mengajak empat temannya-Bagas, Ayu, Raka, dan Tari-untuk mendaki Gunung Mahesara, gunung yang katanya penuh legenda, namun jarang tersentuh wisatawan. Lima remaja dari latar dan budaya berbeda, menyatu dalam perjalanan menuju puncak. Awalnya, ini hanyalah perjalanan tentang alam, peluh, dan keheningan hutan. Namun segalanya berubah ketika mereka menemukan sebuah percabangan jalur: satu jalur resmi, satu lagi tertutup semak dan larangan. Dari sinilah semuanya bermula. Kabut turun. Kompas tak lagi bekerja. Hutan mulai berbicara. Mereka tersesat di tempat yang tak ada dalam logika-Lembah Arunika, dunia tersembunyi yang hanya muncul bagi mereka yang memikul beban tergelap. Di lembah itu, sihir bukan dongeng. Makhluk gaib dari mitologi lokal bukan sekadar cerita rakyat. Mereka nyata. Hidup. Dan menjaga keseimbangan dunia yang mulai retak. Kelima sahabat ini harus menghadapi rintangan demi rintangan-bukan hanya melawan kekuatan jahat yang mengancam lembah, tetapi juga menghadapi sisi tergelap dalam diri mereka masing-masing: kemarahan, penyesalan, ketakutan, dan kesalahan yang tak pernah mereka maafkan. Dalam perjalanan yang penuh luka dan kehilangan, mereka mulai bertanya: Apakah lembah ini benar-benar dunia lain-atau justru cermin dari hati yang terluka dan ingin disembuhkan? Dan di tengah kabut yang tak kunjung sirna, satu pertanyaan terus bergema: Apakah mereka akan menemukan jalan keluar-atau justru menjadi bagian dari lembah itu selamanya?