SANCAKA
  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 30, 2020
Author nulis cerita ini dengan kengawuran semata. Gue Sancaka Abdi Putra, itu nama diberikan bokap gue, nyokap gue meninggal sejak saat ngelahirin gue. Gue bertanya-tanya pada diri gue sendiri, dan tentu juga pada Tuhan. Kenapa gue dikasih hidup sedangkan nyokap enggak? Gue merasa bersalah, hati gue hancur, saat gue mengenangnya , setitik air mata keluar di pipi gue mencair begitu derasnya. Gue belum begitu mengenalnya. Sama sekali tidak. Gue hanya mengenal wajahnya cuma dalam foto. Sifatnya gue sama sekali enggak tahu. "Ibu meninggal gara-gara aku kan ayah." "Mati, jodoh, itu semua udah ada yang ngatur oleh Tuhan. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Diri kamu adalah bagian yang harus kamu banggakan, dan harus dipercaya sebelum orang lain." Begitulah kira-kira bokap gue menanggapinya dan gue cuma percaya. Di sisi lain gue punya musuh namanya Yasmin sedeng. Dia cewek. "Wei Sancaka edan! Sini lo! Dasar musuh dalam pergulatan sekolahan." "Pergulatan apaan dah? Kagak tahu gua." Dan ikuti kisah gue dalam cerita ini. Gue bilang follow dong!
All Rights Reserved
#724
kocak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • AIDIT
  • AFIKA [ END✔ ]
  • Queen Halu
  • Admire Or Love
  • Full Of Scratches
  • ON SIGHT (Completed)
  • Alisa's Story
  • THE CLIMB [Completed]
  • AILAH(END)✅

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines