The Higher-Ambition Girl

The Higher-Ambition Girl

  • WpView
    Lecturas 125
  • WpVote
    Votos 23
  • WpPart
    Partes 4
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, oct 25, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Ambis pake banget, emang ada? Hai, itu gw Keinarra Miandra cewek dari keluarga sederhana yang mempunyai ambisi sangat tinggi. Kalian kira gw cewek yang gaksuka bergaul, Kalian kira gw cewek yang selalu optimis tentang apapun, Kalian kira gw cewek yang tak pernah merasakan cinta, Kalian kira gw cewek yang memiliki keluarga harmonis, Kalian kira gw cewek yang mempunyai otak cerdas, Kalian kira gw cewek yang taat dalam beragama, Enggak, itu jawabannya. Nihil ada orang yang seperti itu tidak ada masalah dalam hidupnya. Manusia tidak akan bisa menjadi sempurna tapi bisa terlihat sempurna. Disini perjalanan hidup si cewek ambis dimulai. Berambisi menemukan jati diri, memperbaiki iman, mewujudkan tujuan & impian, menggali ilmu, dan sampai akhirnya menemukan takdir yang tertulis dilauhul mahfudz. Apakah mungkin gw berhasil sampai titik itu? Atau gw menyerah sebelum semuanya terwujud? Atau Allah Swt berkata lain? Entahlah... Silahkan dibaca jika tertarik, cerita ini murni dari hati gw si author. Jangan sungkan untuk menegur jika ada kesalahan informasi maupun kalimat. "Welcome to my journey" Keinarra Miandra
Todos los derechos reservados
#21
terpendam
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Eliinaa
  • Rude Beautiful Girl [Sudah Terbit]
  • GLANCE
  • Raden
  • Guntur ; BAD BOYFRIEND [SUDAH TERBIT]
  • The Real Of Me
  • PROSA "Proyeksi Rasa" [END]
  • RANNA
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido