Our Little Sister

Our Little Sister

  • WpView
    Reads 16,577
  • WpVote
    Votes 1,309
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 18, 2022
Airin Arabella terbiasa hidup untuk dirinya sendiri. Dia hanya bertekad untuk keluar dari panti asuhan yang memuakkan ini. Selama empat belas tahun hidupnya ia selalu disiksa. Disaat kebebasan hanya seperti angan baginya, tiba-tiba sepasang suami istri datang padanya dan mengatakan mereka adalah orang tua kandungnya. Seketika hidupnya yang selama ini kesepian kedatangan banyak orang yang menyebut diri mereka keluarganya. *** "Padahal aku menderita selama ini. BAGAIMANA BISA KALIAN YANG KUANGGAP TIADA TIBA-TIBA DATANG?!" ~~~ "Maafin bunda, Ai.. hiks.. M-maafin bunda.." ~~~ "Mereka adalah kakakmu, Ai." ~~~ "Panggil aku kakak!" "Tidak mau!" ~~~ "Beraninya kamu melukai adikku!" "Si b**gs*t ini, kamu mau mati ya?!" "Diam Ron, biar kami yang mengurusnya." "Ai juga adikku, sialan!"
All Rights Reserved
#42
airin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • My Three Brothers [Terbit]
  • Sweet Shadow's Senaku!
  • [JaexDoxTae Fanfic] - Day Dream (FIN ✅)
  • Posesif Brother [Tamat]
  • MY BROTHER FOREVER BUT NOT UNITED
  • 𝗧𝘄𝗶𝗻𝘀 𝗨𝗻𝗶𝘃𝗲𝗿𝘀𝗲
  • Aleum And 7
  • SEVEN POSSESSIVE BROTHERS [BTS] - INEFFABLE
  • NATHA: AFTER SHE GO || ON GOING

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines