Mayra menyukai Fatih, tetangganya sendiri, entah sejak kapan. Awalnya dia mengalami krisis PD karena dia yakin Fatih si anak baik tidak akan menyukai Mayra si cewek pecicilan. Namun, karena ulah Mayra yang suka bolos, dia dipindahkan oleh orang tuanya ke sekolah Fatih. Tentu saja Mayra menyetujuinya! Ya iya, lah, satu sekolah dengan Fatih, gitu.
Mayra menganggap bahwa ini adalah pertanda kalau ia dan Fatih memang harus dekat. Akhirnya, Mayra memberanikan diri untuk mendekati gebetannya itu dengan modus sehalus mungkin. Tentu saja, PDKT-nya ini tidak segampang yang direncanakan. Mulai dari adaptasi, menjelma jadi ukhti-ukhti, dan kisah persahabatannya yang terancam hancur. Ada banyak masalah yang harus dilewati Mayra, membuatnya malah mendapat banyak pelajaran berharga dalam hidupnya.
Akankah PDKT berkedok modus taaruf Mayra ini berhasil?
-----------
-----------
Halo! Jadi ini itu Modus Taaruf Mayra yang udah direvisi dari awal sampai tamat. Kalau kalian pembaca cerita ini sebelumnya, boleh banget baca kembali karena ceritanya lebih menarik.
Cerita ini bakal aku update tiap hari Jumat dan Selasa. Selamat membaca :)
Maura Elvaretta Zahira, gadis ceria berambut panjang yang selalu tampak bersinar di mata orang-orang. Di balik senyumnya, ia menyimpan luka masa kecil yang belum sembuh-kehilangan ayah yang ia cintai dan ibunya yang menikah kembali. Meski rapuh di dalam, Maura tumbuh menjadi pribadi yang ambisius dan pekerja keras. Ia ceroboh, sering gegabah, dan tak jarang memainkan rasa percaya dirinya untuk menutupi ketakutan yang tak pernah ia akui.
Lalu ada Mahzan Rafiq Al Muaffaq-siswa kelas dua SMA yang dikenal pendiam, dan tenang. Putra pemilik pesantren dan seorang dokter ini tumbuh dalam nilai-nilai agama yang kuat. Ia merupakan murid kebanggaan guru.
Mereka dipertemukan di SMA. Dalam riuhnya masa remaja, Maura jatuh hati lebih dulu. Ia tak menunggu waktu terlalu lama untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi Mahzan menolak-bukan karena tak ada rasa, melainkan karena ia tahu, cinta tak cukup hanya dengan saling suka.
"Aku bukan tak ingin, Maura. Tapi kita punya Tuhan yang mengatur waktu. Dan saat ini, belum waktunya kita jadi satu."