We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Kembar 5

Kembar 5

  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 25, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Saat tirai mulai tertutup, sudah saatnya untuk diriku turun dari atas panggung itu. Melepas peranku yang tidak berguna, meninggalkan jejak kaki yang tidak terlihat di setiap anak tangganya. Emas tetaplah emas, tidak bisa diubah menjadi sebongkah berlian. Saat kamu ditunjuk menjadi berlian, maka wujudmu akan tetap berlian. Kelahiranku di antara bongkahan berlian ini memberi tekanan besar untuk langkahku. Kita kembar 5 yang berbeda dan sangat berbeda. Aku takut menjadi batu jalanan yang menjadi penghalang langkah sang Berlian. Anggap aku seperti hantu, jangan pedulikan aku dan jauhi aku. Aku ingin menjauhi kalian dan aku juga benci menjadi saudara kalian. 1. Kembar 5 itu tidak menyenangkan. 2. Karena kembar 5, aku harus menjadi sosok kakak menggantikannya. 3. Karena kembar 5, dia tidak dianggap karena berbeda dari kami. 4. Karena kembar 5 ini membuat kami sulit memahami satu sama lain. 5. Karena kembar 5 aku membencinya, aku lebih suka kami kembar 4. Dia tidak berperan dengan benar dan mengabaikan perannya. Hanya wajah mereka saja yang serupa, tapi hati dan pikiran mereka berbeda. Entah jalan apa yang mereka pilih, mereka yang memutuskannya. ©Eunoia_RP Start ▶10 Oktober 2020 Finish ◼ ?
All Rights Reserved
#972
berbeda
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • ECCEDENTESIAST (COMPLETED)
  • RAGARA [ on going ]
  • ReinSheria [COMPLETED]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • SELF LOVE
  • Let Me Love You Longer
  • Triplets [END]
  • Strong Girl Michella (END)
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines