Lukarsa

Lukarsa

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 3, 2020
Ketika satu kereta api bergerak terus, banyak yang berkata hidupnya tak ada masalah. Barangkali mereka tak tahu bagaimana masinis memasukkan bara dan menjaga laju kereta. Barangkali mereka tak tahu bagaimana tiap nyawa di dalamnya menahan detak kencang, perasaan mulas buang air, keringat kepanasan, lapar akan masakan rumah, bahkan menahan tangis karena cicilan bulanan. Nyatanya yang tampak baik-baik saja kadang tidak sebaik itu. Nyatanya yang tampak bahagia tidak merasa sesenang itu. Saya lelah membuat orang-orang menyebut kesucian dan bagaimana baiknya saya. Saya lelah mendengar mereka membicarakan bagaimana diamnya saya dan bagaimana bodohnya saya. Saya lelah membiarkan anggapan lemah mereka menghancurkan saya. Maka, biarkanlah saya bicara meski menyiksa. Biarlah aku ini menjadi sedu. Biarlah tawa mereka berganti jadi diam yang lama. Selamat datang di dunia banyak bicara. Sebab saya tak mau menutupi bagaimana kamu membuat saya muak dengan segalanya. Barangkali, senja yang nyaman itu harus terganggu sedikit dengan kelabu jumantara.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Senja Termendung
  • Anak DESA ✔
  • Ketika Tulisan bercerita?
  • save me
  • UNREQUITED LOVE
  • Mahligai Sunyi
  • Antara aku dan dunia
  • YOUR HAPPINESS

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines