The Boy I Met In My Dream

The Boy I Met In My Dream

  • WpView
    Reads 65
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Sat, Oct 10, 2020
Cinta adalah suatu hal yang tidak bisa dipaksakan. Meskipun terkadang rasa cinta bisa datang seiring berjalanya waktu, jika dilandasi keterpaksanaan tentu tak akan bahagia bukan?. Begitulah prinsip yang diyakini oleh Hanna Pricillia. Sayangnya Ayah Hanna menjodohkannya dengan Bastian, seorang laki-laki mapan anak temanya. Hanna tak mencintai Bastian, sehingga dengan keras Ia menolak perjodohan itu. Hanna masih percaya bahwa cinta pertama yang hadir dalam mimpinya akan hadir menemuinya. Hingga suatu saat Hanna benar-benar bertemu dengan sosok laki-laki yang mirip dengan laki-laki yang ada mimpinya, Raka Gibran Wardana. Laki-laki itu berhasil mencuri hatinya dan membuatnya jatuh cinta. Namun, rasa cinta Hanna pada Raka bertepuk sebelah tangan karena Raka mencintai orang lain. Lalu apakah akhirnya Hanna bisa bersama dengan Raka? Atau malah Hanna akan menerima perjodohan dengan Bastian?
All Rights Reserved
#788
perjodohan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Prenuptial Agreement
  • PILIHAN TERBAIK (Tamat - Revisi)
  • Mate from parents
  • Substitute Bride [End]
  • Crazy Marriage
  • Hanna [SELESAI]
  • I Bet You Love Me
  • May I Love You?
  • Contract of Feelings
  • Radar Semesta

"Tya, kapan kamu akan menikah?" tanya sang ayah. "Nanti, Yah, kalau sudah ada jodohnya," jawaban ringan itu yang selalu menjadi andalan Adistya. "Iya kapan?" tanya kembali ayahnya yang sepertinya tak sabar menginginkan sang putri untuk segera menikah. "Sabar kali, Yah, toh jodoh gak akan ke mana." "Jodoh memang tidak akan ke mana, tapi kalau gak ke mana-mana kapan dapat jodohnya." Kutipan itulah yang selalu ayahnya ucapkan. Membuat Adistya memutar bola matanya bosan. Ayahnya itu gemar menanyakan perihal jodohnya apalagi mengingat usianya yang sudah menginjak angka 27, usia yang sudah cukup matang untuk membina rumah tangga sampai ayahnya gemar sekali mencarikan jodoh yang untungnya tidak pernah berhasil. Adistya lelah begitupun dengan sang ayah, sampai akhirnya sebuah kesepakatan mereka buat untuk perjodohan terakhir Adistya. Kebebasan sudah ada di depan mata, tapi harapan itu harus gagal karena dengan lancangnya kepala Adistya mengangguk mengkhianati hatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines