Terima Kasih Guruku

Terima Kasih Guruku

  • WpView
    LETTURE 8
  • WpVote
    Voti 0
  • WpPart
    Parti 1
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione gio, ott 8, 2020
"Guruku Inspirasiku" Disaat aku kesusahan dalam memahami materi Pembelajaran Dengan sabar dan telaten, bapak ibu guru Mengajariku sampai aku bisa dalam memahami Pelajaran. Jika kalian kesusahan dalam pembelajaran, Lebih baik kalian bertanya kepada orang yang lebih Faham atau guru kalian, jika kalian tidak mau Bertanya, maka kalian akan tersesat ditengah jalan Guruku pernah berkata: "Lebih baik bertanya daripada tersesat di jalan" Kata-kata itulah yang selalu kuingat Jika aku kesusahan dalam pembelajaran, Lebih baik ditanyakan agar lebih faham materi yang Diberikan Untuk guruku Terima kasih atas Bimbingan selama ini Kalian membimbing kami dengan sabar, Membimbing kami dengan sepenuh hati Dan terima kasih atas pengorbanan kalian selama Ini Membimbing kami sampai detik ini. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih Sebanyak-banyaknya. Semoga Allah senantiasa melindungi kalian.
Tutti i diritti riservati
#638
tugas
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • Waiting lockdown
  • PERJODOHAN PAKSA ( END )
  • TAKDIR ANGELINA CHRISTY (END)
  • di akhir perang
  • Hai, Kak! (END)
  • pasivura pasi! ;opet
  • nostalgia SMA kita

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti