We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Secret Love

Secret Love

  • WpView
    Reads 19
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 19, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Tagsrandom
"Kenapa masalah selalu menghampiri ku Tuhan? Mengapa?" ucap Yeeun sembari melemparkan hpnya hingga memecahkan cermin yang ada di kamarnya. "Kenapa kau mengambil nyawa ibu ku secepat ini?" ucapnya lagi sembari menyayat nyayat lengannya. "Aku lelah hidup seperti ini Tuhan." Yeeun pergi keluar kamar. Dan ternyata Yeeun pergi ke atap gedung. Tepat saat hendak melompat, tiba-tiba Yeeun merasa ada tangan yang melingkari pinggangnya. Saat menoleh orang itu adalah Inyeop. "Aku mohon jangan seperti ini Yeeun. kalau kamu ada masalah tolong cerita pada ku, aku akan menjadi pendengar untuk mu. Aku suka kamu Yeeun," ujar Inyeop sembari memeluk Yeeun dengan erat.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • I'm Not the Protagonist (Completed)
  • [Terjemah] SAVE ME, KEEP ME | MarkChan GS ✔️
  • My Brother[Sequel Mianhae My Brother]
  • Titipan Jantung Untuk Gladis
  • Abandoned
  • FADING IN YOUR ARM [YEOJONG]
  • SHORT STORY || EXO
  • tentang sebuah rasa

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines