Jera(Wa)t Cinta Jeje

Jera(Wa)t Cinta Jeje

  • WpView
    LECTURES 768
  • WpVote
    Votes 96
  • WpPart
    Chapitres 9
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., févr. 19, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Ketika cantik itu diukur dari seberapa mulus wajah elo, Lalu apa yang bisa dilakukan Jeje sebagai seorang cewek yang hampir setiap hari berkutat dengan jerawat dan pasukannya? Jangankan untuk mendapatkan wajah bersih dan bening, untuk sekedar menghentikan jerawatnya tumbuh saja Jeje sudah kerepotan setengah mati. Cerita ini tentang Jeje, Seorang cewek yang insecure dengan sejengkal bagian tubuh paling depan yang selalu bermasalah dengan Jerawat, komedo dan sejenisnya. Lalu ketika cinta dengan manisnya datang kepada Jeje, Sanggupkah Jeje menerima uluran tangan sang cinta ataukah Jeje harus mengabaikan karena insecure dengan jerawat-jerawatnya?
Tous Droits Réservés
#759
roman
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • INSECURE LOVE (END)
  • cewek aneh
  • Gbk To Lovers: faldean
  • Extraordinary Zini (END)
  • I Love You Gadis Tampan
  • cewek cupu
  • ESHA🍓 || (END)
  • i'm not bad and i'm not perfect
  • Amaranggana
  • [DEARY AZA]

[ YU DI FOLLOW DULU YUUU ] _AREA DI LARANG INSECURE!!!_ "Gue buruk banget ya?" lirihnya, bertanya ntah pada siapa. Fay tersadar, ia mengusap kasar air matanya. "Harus ya, semua cewek itu cantik? Harus ya, putih? Glowing? Nggak jerawatan? Body goals?" Fay menjeda ucapannya, lagi-lagi air matanya terjatuh. "Jika iya, berarti gue gagal jadi cewek? Gitu?" lirihnya lagi. Kali ini di barengi dengan isakan-isakan kecil. Fay menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menangis terisak dalam diam. Menahan sesak yang seolah memenuhi rongga dadanya, dan bersiap akan meledak detik itu juga. Sudah cukup selama ini ia pura-pura kuat, sudah cukup ia pura-pura tidak peduli. Segala cibiran, hinaan, bahkan candaan yang di kemas dengan sangat rapi berisikan tentang segala kekurangannya, kini menumpuk menjadi satu. "Gue juga nggak mau terlahir dengan seperti ini, tapi gue bisa apa? Ini takdir gue, gue salah apa sama kalian? Gue nggak pernah hina kalian? Kalaupun kalian ngehina gue dengan alibi sebuah candaan, gue terima kan?" lirihnya lagi, semakin terisak. Ntahlah, katakan saja jika Fay lemah. Ya, memang lemah! Fay lemah! "Jangan sesekali lo nyalahin takdir, emang benar, banyak mulut yang ngehina fisik lo, dan lo nggak bisa hentiin mereka buat nggak ngehina lo. Lo cuma punya dua tangan, dan lo nggak bisa bungkam mulut mereka. Tapi, lo punya dua telinga, lo bisa fungsiin kedua tangan lo, buat nutup telinga lo. Jangan bodoh!"

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu