Sejak kematian kakaknya, Nara terus tenggelam dalam bayang rasa bersalah yang tak bisa dia enyahkan. Rasa bersalah yang terus menetap, memperburuk pribadinya. Kehidupannya sejak saat itu tak lebih dari rangkaian hari yang menyesakkan. Suatu waktu, ketika menunggu bus menuju sekolah. Nara bertemu seorang gadis yang hadir seperti kekacauan kecil yang manis. Pertemuan itu memunculkan pertemuan-pertemuan kebetulan lainnya, lewat perjalanan-perjalanan kecil dan percakapan di sela-sela waktu. Jeda waktu itu membuat Nara untuk belajar memahami luka dan napasnya sendiri.
More details