Diary
  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 27, 2020
Pernah merasakan gak sih, semasa sekolah kalian menulis Diary? Pernah merasakan juga kalian di ikuti oleh penguntit? Tapi tahu tidak? Kejadian ini di alami sendiri oleh Lisa, si gadis remaja sekolah yang kere dan banyak berkhayal dengan tingkat ke-halu-an yang tinggi. Namun, bukan Luna yang di ikuti penguntit, tapi dia sendiri yang menjadi penguntitnya. Penguntit yang kurang beruntung, disaat kelulusan sebentar lagi disaat itu pula Lisa baru menyadari ada lelaki super tampan di sekolahnya. Bermodalkan Diary, Lisa menuliskan semua apa yang dilakukan sehari-sehari dengan menjadi penguntit lelaki itu. Dan berhenti sampai Diary nya hilang. Beberapa tahun kemudian, Diary yang hilang tiba-tiba kembali dan itu menjadi awal dimana kehidupan Lisa berubah 360 derajat.
All Rights Reserved
#17
penguntit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rindu Senin Pagi
  • Cuek Tapi Romantis [Dreame/Innovel]
  • Rezra
  • Elvina [COMPLETED]
  • Blonde & The Cold Heart [TERBIT]
  • Cerita Cinta SMA [TAMAT]
  • Maria Broken Heart To My Love(Slow Update)
  • LEITHLEACH

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines