Antara Jantung Dan Hati💔

Antara Jantung Dan Hati💔

  • WpView
    Reads 105
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 11, 2020
" Kekurangan kasih sayang? Yah aku merasakannya. Namun, semenjak hadirmu aku tak merasakannya lagi" "Aku lelah, ingin menyerah. Namun, tuhan dan alam semesta tak mengijinkannya " "Salah satu cara agar tak ada yang tersakiti lebih dalam adalah pergi, menjauh hingga tak tergapai lagi" . . . . . . Halooo reader👋 selamat datang di cerita pertamaku, semoga kalian suka dengan ceritaku ini. Maaf ya apabila ada typo dalam cerita ini, jangan lupa vote dan comment ya😁. Terimakasih💕.... *Happy reading all😋
All Rights Reserved
#82
tersakiti
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • A Second Chance #Brotherhood 3 (Complete)
  • Let Me Love You Longer
  • LOVE AND FRIENDSHIP ( R & J : 1 )
  • BERSAMAKU SEBENTAR SAJA[BXB]
  • Rasa Tanpa Kata
  • Shorts Story
  • Leet Me Meet Him [On Going]
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • KEYVARA (Revisi)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines