Thank You , Abi.

Thank You , Abi.

  • WpView
    Reads 133
  • WpVote
    Stemmen 20
  • WpPart
    Delen 5
WpMetadataReadLopende
WpMetadataNoticeLaatst gepubliceerd din, jan. 19, 2021
WpInfo
Fictie
Romantiek
"Alam semesta tidak pernah bercanda. Ia memberi apa yang ingin kita miliki , Ia mengampuni apa yang telah kita perbuat , Dan ia juga memberikan tempat singgah yang disebut dengan rumah sesungguhnya. Jika diperintahkan untuk berterimakasih , aku hanya akan berterima kasih sekali saja dalam seumur hidupku kepada semesta. Terimakasih telah mempertemukan aku dengan seseoarang yang sama seperti mu, memberikan apa yang aku ingin , menerima semua kekuranganku , dan memberikan tempat singgah yang kujadikan rumah sesungguhnya." Kutipan terakhir dari seorang penulis yang terkenal , sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya. Setiap orang pasti mempunyai mimpi yang berbeda-beda , sama seperti Salsabila Zahra. Sedari kecil , ia selalu bermimpi menjadi seorang penyanyi terkenal yang ingin lagu original nya terkenal dimana-mana. Namun , lagu-lagu Salsa tidak pernah sesuai dengan ekspektasinya. Ia tidak bisa menyampaikan pesan dari lagu itu seperti penyanyi lainnya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang bisa memberikannya lirik yang bagus. Orang itu adalah Abimanyu Guntur. Mereka pun menjadi dekat hingga akhirnya bisa menggapai mimpi masing-masing , namun kisah cinta mereka tidak berakhir menyenangkan seperti karir mereka.
Alle rechten voorbehouden
#223
musik
WpChevronRight
Word lid van de grootste verhalengemeenschapOntvang persoonlijke verhaal aanbevelingen, sla je favorieten op in je bibliotheek en geef commentaar en stem om je gemeenschap te laten groeien.
Illustration

Je bent misschien ook geïnteresseerd in

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • KOMAR.
  • DIFFERENT TWINS [ END ]
  • Surat Kecil
  • A Love Lost Beneath the Blue
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • Karena Kamu Rumahnya
  • Trapped in Crime
  • Alpha's Enigma {WinnySatang}

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

Meer details
WpActionLinkInhoudsrichtlijnen