Hutan Kebencian (On Going)

Hutan Kebencian (On Going)

  • WpView
    LECTURAS 240
  • WpVote
    Votos 92
  • WpPart
    Partes 12
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, sep 2, 2021
"Kushina seorang gadis cantik yang terpaksa harus pindah mengikuti kedua orang tuanya kembali ketempat kerja ayahnya, empat tahun yang lalu." "Namun, ntah mengapa semenjak hari pertama ia tinggal disana, ia merasakan hal-hal mistis yang terjadi." Salah satunya ia melihat sosok wanita yang bersimbah darah di sekujur bajunya, dan melihat anak kecil yang awalnya terlihat baik-baik saja tapi beberapa saat kemudian tubuhnya penuh luka dan berdarah, dan di bagian kepalanya terdapat lubang, banyak sekali belatung yang melompat-lompat membuat siapa saja yang melihatnya ingin muntah. Akan tetapi Kushina mengabaikan hal tersebut dan mencoba untuk menganggap apa yang dilihatnya hanya halusinasi belaka. "Namun, hari demi hari dilewati, kejadian aneh pun Semakin menjadi-jadi dan melibatkan orang tuanya hingga orangtuanya tidak kembali ke dunia nyata." Apakah mereka akan berkumpul kembali? Atau keluarganya akan mati? Baca kuy ceritanya dijamin seru deh!!
Todos los derechos reservados
#5
youngdult
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • KARAFERNELIA
  • The story of a karma girl
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]
  • BELENGGU HITAM [Sudah terbit]
  • The Secret That Makes Me Grow [END]
  • The Bleeding Lady [completed]
  • KINARA
  • Reincarnation - Lord is Extremely Hardcore   (END)

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido