Pena Tanpa Tinta

Pena Tanpa Tinta

  • WpView
    Reads 80
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 31, 2020
Bandung dan Yogya. Kedua kota yang sangat kurindukan oleh kedamaian hidup. Temaram di Jakarta, ya benar sudah ku sangka. Alvaro Aditi, lelaki yang berani menampar hatiku dengan sangat keras tanpa basa basi sedikitpun. Cinta pertama yang membuat sakit hati pertama. Bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi dimana aku kehilangan tinta. "Oke fix, pena dan tinta. Intinya pena selalu bersama tinta. Gak ada istilah tinta tanpa pena apalagi pena tanpa tinta, sampai kapanpun" Ucap Al. Antara Jakarta dan New York City. Dia kembali oleh waktu, apakah itu tinta? "Iya bener kok, tinta pada suatu pena pasti akan habis. Dan na'as, pada akhirnya pena akan terbuang" Ucapku dengan kecewa seraya menahan air mata yang ingin sekali terjatuh, tapi aku enggan. Gue heran, kenapa gue ikut daftar formulir penyesalan?. Yaa, apapun itu pasti punya alasan. Istilah yang didambakan dan dianggap tak akan terjadi itu mustahin dengan susuna acara hidup yang kita tulis. ••• Keduanya punya rasa dan magnet hati yang kuat, terpendam hangat di jiwa. Dan akan selalu dikenang. Entah bagaimana takdir mereka antara lanjut atau tidak. Stay at here. Semoga kalian sukaa.. I ~jangan lupa vote nd komen. ♡♡ Fyi, sebenernya ini tulisan pertama aku sebelum irremplazable yang tersimpan sembunyi di laptop. So, apa adanya yaa semoga sukaaa
All Rights Reserved
#10
irreplaceable
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rindu adalah Kamu
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • The Story Of Aghea
  • Ctrl+P My Heart
  • ALEYA~~
  • Luka Yang Tak Terobati [TERBIT]
  • Ayesha Transmigration
  • ANNISA {ON GOING}
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • Duranta Repens

"Aku akan kembali nanti tanggal 22 ke sini, kemungkinan aku akan membawa mobil," Kata Atha kepada Ardi dan Mei "Ya. Kami akan menunggumu, hati-hati di jalan," Balas Ardi sambil memeluk Atha erat. "Mei, kamu tidak mau memeluk Atha?," Tanya Ardi kepada Mei. Ardi melihat ke arah Mei dan menangkap matanya berwarna merah. Apakah ia menangis? "Ga mau. Nanti juga dia ke sini lagi," jawab Mei tanpa melihat ke arah Atha. "Mei, kamu menangis?," Serbu Ardi melihat air mata Mei menetes ke pipinya. Ardi sedikit tertawa, mencoba menggoda Mei Atha segera menyambar tubuh Mei dan memeluknya erat. "Cup... Cup... Cup... Iya, nanti aku balik ke sini lagi kok. Jangan nangis ya." _________ Cerita ini dimulai dari Kantor Bu Nengsih, pembina redaksi kampus di mana Atha adalah pemimpin redaksinya. Ia diminta untuk libur dari tugasnya oleh pihak kampus demi mengikuti nominasi sebagai penulis terbaik yang ia dapatkan dari RRI Jogja. Mengisahkan banyak hal di Kota Jogja sampai pada akhirnya perjuangan Atha untuk mengejar cinta seorang gadis yang diberinya nama Rindu. Gadis yang menemani hari-hari terakhirnya sebelum kembali ke Jakarta. Akankah Atha benar-benar kembali ke Jogja, atau Ia justru menyibukkan diri dengan pekerjaan barunya di Jakarta?

More details
WpActionLinkContent Guidelines