Sabda Semesta

Sabda Semesta

  • WpView
    Membaca 247
  • WpVote
    Vote 8
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Feb 1, 2022
"Sabda, tidak perduli berapa sering kamu menangis. Nyatanya sebuah kepergian akan selalu datang. Entah dengan ucapan perpisahan yang jumawa atau mendadak pergi tanpa aba-aba. Meski begitu, bumi tetap bulat, matahari terus bersinar, dan hidup harus berjalan sebagaimana mestinya. Walaupun dalam perjalanan itu kamu akan terseok oleh luka yang belum kering, pada akhirnya kamu akan menyadari satu hal, bahwa di dunia ini tidak ada yang tercipta hanya satu sisi. Selalu ada datang dan pergi, hitam dan putih, kanan dan dan kiri, baik dan buruk, begitu pula kesedihan yang sudah sepaket dengan sebuah kebahagiaan." "Senjani, selepas hari itu aku mendadak menjadi manusia yang hanya tau cara untuk bernafas. Selepas hari di mana aku mengatakan 'hati-hati untuk segala bangun dan tidurmu' aku bagaikan terjebak pada sebuah lubang hitam berwarna hitam pekat. Duniaku mendadak mati. Butuh waktu lama bagiku untuk bisa mengatakan 'selamat jalan, bungaku' dengan hati yang penuh tabah. Maka, atas segala bentuk kepergian, aku ingin mengucapkan 'terima kasih' pada semua hal tentang kamu, tentang kita, dan tentang dunia yang tak adil bagiku namun membuatku sadar bahwa yang terbaik itu tidak pernah ada di selain kamu."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#8
senjani
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Perihal Sandwich(End)
  • Karena Aku Mencintaimu...
  • Remember Me As A Time of Day✅
  • Broken melodies
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • SATU RAGA SERIBU LUKA |
  • Our Juvenile : MANGUN KARSA
  • Eliinaa

Tidak ada yang mau memiliki adik sebanyak Mas Malik. Apalagi di zaman modern serba uang. Rasanya untuk membiayai hidup sendiri saja sudah sulit. Namun, bagi Mas Malik ke-enam adiknya adalah anugerah besar dalam hidupnya. Kami tujuh bersaudara dari umur dan sifat yang berbeda-beda. Kami memiliki julukan piatu geng, karena ibu sudah meninggal sejak Jafar baru dilahirkan. Gak tahu kenapa Abah sangat betah menduda. Abah bilang ibu itu seperti perampok handal yang bisa merampok semua hati Abah tidak tersisa. Kata Abah, dia terlalu takut untuk membuka hati lagi. Takut kalau ternyata gak bisa kasih ruang beserta isinya untuk si perampok baru. -Mas Malik- "Generasi Sandwich itu apa, sih, Bang?" "Kayak kita gini, saudaranya banyak." "Kata temen aku, jadi generasi Sandwich itu gak enak ya, Bang?" "Banyak anak, banyak kepala, banyak sifat, banyak kebutuhan." "Intinya jadi generasi Sandwich itu harus banyak uang, sih, biar tetep akur." "Jaf, sandwich kita ini beda dari yang lain, ini lebih spesial. Spesial bukan karena pake keju sama telor, tapi karena di dalamnya ada Abah, Mas Malik, Bang Eja, Janu, Jerry, Cahyo, sama kamu!" Bukannya memang tidak ada persahabatan yang lebih indah selain dengan saudara sendiri? Walaupun siang malam bisa berubah jadi Roro Jonggrang, tapi tetap saja mereka saling sayang seperti Upin Ipin. Masih pemula Bahasa baku, non baku Maaf kalau banyak typo 🚫Masih amburadul, tidak cocok untuk diikuti🚫 Salam Hangat Mentai👋

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan