Gift
  • WpView
    Reads 663
  • WpVote
    Votes 100
  • WpPart
    Parts 26
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 25, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Sayap putihnya itu mulai bergerak kedepan, menuju tubuh Arsa. Membuat tubuh mereka berdua semakin dekat. Sayap itu terus menghilangkan jarak yang ada. Arsa yang dipeluk dengan sayap lembut itu menerima dekapan hangat darinya. Lambat laun tangan Arsa meraih pinggang sang malaikat. Ia tidak keberatan jika Arsa menyentuh tubuhnya. Ini adalah hadiah kecil darinya, setelah ia melewati semua ujian hidup dengan baik. *** Arsa hanya diam mematung, 'Apa-apaan itu tadi? dia memelukku? tersenyum padaku? mengenalku? apa-apaan ini! Harusnya tadi aku tidak usah bertanya, harusnya aku ikuti saja permainan mereka. Tapi entah kenapa, aku tidak mau dipermainkan oleh mereka bertiga' *** "Arsa, kami tidak peduli sedikit pun tentang pencitraan yang kau katakan tadi. Kami hanya ingin menjadi temanmu lagi, menjadi sahabatmu lagi, kami sangat ingin bersamamu lagi, tidak ada niatan lain, Arsa" jelas Zohar dengan tenang. Melihat Arsa yang sudah berubah ini sangat menantang amarah Zohar. Tapi ia sadar, Arsa yang sedang bersamanya saat ini, bukan lagi Arsa yang Zohar kenal. Ini adalah Arsa yang sudah tumbuh dewasa dengan segala perintah Ayahnya, yang tidak mempedulikan perasaan Arsa. Semua gambar dari Pinterest*
All Rights Reserved
#53
ruangrindu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Masa Itu ✔ (Tamat di Karyakarsa)
  • Make a Story With You
  • Giona: Second Lead My Husband
  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu
  • The Miracle Of Crystals
  • MEMORIA (COMPLETE)
  • When Two Hearts Collide
  • A Journey with You

"Nggak ada perempuan yang baik yang mau sama pasangan orang!" Teriak Keira menatap sengit ke arah Bagas. "Kei!" Teriak Bagas membalas teriakan Keira. Disini Bagas yang salah, bukan perempuan kecil yang tengah ia gandeng bahkan perempuan kecil itu sekarang ketakutan bersembunyi di belakang tubuh Bagas. "Apa karena pernikahan kita berawal dari perjodohan kamu bisa seenak jidatnya membawa dia pulang?" Tangan Bagas yang bebesa memijat keningnya, ia tahu jika masa lalunya akan terkuak juga. Bagas disini bukan tidak menghargai Keira tapi ia tidak tahu hal apa yang harus ia lakukan. "Pelankan suara kamu Kei. Dia tidak bersalah." Pinta Bagas dengan nada sedikit mengiba. "Lantas kenapa dia ada disini? Kemana jal*ng kamu itu?" Keira sadar saat ia menikahi Bagas, Bagas memang masih memiliki kekasih. Tapi tidak harus membawa ekornya ke dalam pernikahan yang baru menginjak usia empat tahun ini, bukan? "Keira, stop bicara kasar. Lebih baik kamu masuk kamar. Aku mau mengantar Lala ke kamarnya." Putus Bagas dengan melangkah masuk ke dalam kamar yang dulunya ditempati tamu. "Kamu memang kelewatan Mas. Aku sadar jika aku belum bisa memberikan kamu anak, tapi jangan pakai cara seperti ini." Selesai mengatakan itu Keira bergegas ke kamar utama, ia membanting pintu sekerasnya. Langkahnya menyapu ruangan yang banyak memberi kenangan manis dengan Bagas, kedua tangannya mengambil koper dan menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa pulang. Harga dirinya sangat tinggi, jadi saat Bagas membawa anak itu kesini maka dirinyalah yang harus pergi. "Apa-apaan kamu, Kei." Bagas yang selesai menidurkan Lala sontak terperanjat dengan keadaan kamar tidurnya yang sudah seperti kapal pecah. Jangan tanyakan apa yang dilakukan Keira. Melangkah keluar, ia mengusap sisa air matanya. "Aku mau pergi dari sini, dan kamar ini seperti ini sama seperti hatiku."

More details
WpActionLinkContent Guidelines