RAHAGI
  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 14, 2020
Setelah hari itu, hari dimana surat terakhirmu sampai kepadaku, aku masih disini, sama sekali tidak beranjak. Kepergianmu membuat ruang yang tadinya begitu luas dan damai menjadi hamparan kosong diisi nestapa. Masih ingatkah kau jalan pulang? Atau sudah binasa seluruh asa hingga kata dan rasa tak lagi berkuasa? Tampaknya kau baik-baik saja, tapi aku bagaimana? Walau begitu aku akan tetap menjadi orang yang sama. Menjadi Renjanamu, yang selalu merindukanmu dengan sederhana, dan mencintaimu dengan rasa yang amerta. Namamu tidak pernah keluar dari isi kepala, mengkhawatirkanmu rasanya sudah menjadi kegiatan yang tak pernah bosan aku lakukan. Apa makanmu cukup? Apa tidurmu lelap? Dunia memperlakukanmu dengan baik, bukan? Aku percaya semesta akan melalukan segala cara untuk menjagamu. Kini, swastamita tak lagi kirana. Temaram senja membawamu pergi lagi dan lagi. Entahlah, sudah berapa lama aku menunggu kepulanganmu di ambang pintu tapi yang selalu kudapat hanyalah kekecewaan yang membelenggu. Haruskah aku bertahan lebih lama lagi? Atau setelah aksara ini berakhir, aku harus mengikhlaskanmu? RAHAGI, 2020.
All Rights Reserved
#873
sadromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Shivviness[END]
  • always you
  • Bad Boy In Love [COMPLETED]
  • Semu [Completed]
  • HILANG [Segera Terbit]
  • BE WITH YOU (END)✔
  • Cheerful Girl [ENDING]
  • HAFI & NABILA [REVISI]
  • About You Radit! (Selesai + Revisi)
  • (COMPLETED)

Suatu ketika aku bermimpi. Berlari tanpa arah di tengah jalan berkabut. Dan batu kecil pun bisa membuatku jatuh tersandung. Dengan rasa sakit, tak mampu berdiri sendiri. Aku menengadahkan kepala dan melihat sosok samar orang yang kusukai. Dia hanya terdiam seraya perlahan mengulurkan tangannya menanti aku tuk meraihnya. Begitulah... tangan itu memang harus kuraih sendiri. Aku harus berusaha menggapainya. "Akan kuraih..." sesaat aku berpikir seperti itu, seraya kuulurkan tanganku padanya. Kau tahu apa yang terjadi padaku kemudian?... Tanpa kusadari ada sosok lain yang sudah lebih dahulu mendekat dan membantuku kembali berdiri. Tangannya tak hanya terulur tetapi juga dengan erat menggenggamku. "Tenanglah." bisiknya, "Aku akan selalu ada untukmu." Kabut perlahan menghilang, memperlihatkan dengan jelas sosok didekatku itu. Aku tak terkejut. Aku sudah tahu, ternyata memang dia. Selalu dia... Karena bahagia sesederhana itu..

More details
WpActionLinkContent Guidelines