Story cover for Negeriku by pentigraf9B
Negeriku
  • WpView
    LECTURAS 31
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 1
  • WpView
    LECTURAS 31
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 1
Concluida, Has publicado oct 16, 2020
Bahasa merupakan alat komunikasi sehari hari. Di Indonesia,bahasa sangat beragam. Setiap daerah memiliki bahasa yang berbeda. Budaya kita juga beragam,dari batik,tarian daerah,dan rumah adat. Ini merupakan salah satu warisan nenek moyang kita.
Todos los derechos reservados
Tabla de contenidos
Regístrate para añadir Negeriku a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#12bulanbahasa
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat de zei_llyn
18 partes Continúa
"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***
Quizás también te guste
Slide 1 of 6
Catatan Kecilku  cover
ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat cover
TIAP-TIAP PUNYA MASING MASING cover
harapan yang pupus cover
Antara Jarak Dan Waktu cover
Jangan Bilang-Bilang Mama! cover

Catatan Kecilku

10 partes Concluida

Banyak ingatan masa kecil yang sudah lenyap. Namun ada setitik momen yang melekat dalam ingatan sangat bermakna. Ibu mengajariku kata-kata yang pertama, kalimat-kalimat sederhana dengan sabar, kasih sayang, dan kegembiraan. Momen itu, menjadi kenangan yang tak terlupakan, yang terukir dalam hati dan ingatanku. Setiap kali aku mengingatnya, aku merasa seperti kembali ke masa kecilku, di mana kegembiraan dan kepolosan masih menjadi bagian dari hidupku. Ibu, yang dengan sabar dan kasih sayang mengajariku bahasa, tidak hanya mengajariku kata-kata dan kalimat, tapi juga mengajariku tentang arti cinta, kasih sayang, dan kegembiraan. Beliau mengajariku bahwa bahasa bukan hanya alat untuk berkomunikasi, tapi juga alat untuk menyampaikan perasaan dan emosi. Momen itu, menjadi inspirasi bagiku untuk selalu mengingat dan menghargai bahasa ibu, serta untuk selalu mengingat dan menghargai peran ibu dalam hidupku. Terima kasih, Ibu, atas semua yang telah kau berikan kepadaku.