Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.
RUMIT
  • WpView
    Membaca 32
  • WpVote
    Vote 5
  • WpPart
    Bab 6
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Okt 27, 2020
WpInfo
Fiksi
Romansa
Eh, itu pangeran guee. Aaa ganteng banget siii. Jadi pen cepet cepet gue nikahin deh" mulai tuh Shaha ngawur. "Eh, masih bocah aja udah mikirin nikah lo" sewot Riana "Biarin lah. Tuh, liat pangeran gue mau lewat sini. Eeh, udah rapi belum gue Na?" Tanya Shasa kepada Raina dengan membenarkaan rambutnya. 10 detik kemudian pangerannya Shasa sudah berada didepan matanya. Langsung Shasa kasih sapaan yang paling manis. "Hallo mas pangeran" panggil Shasa sambil senyum senyum sok manis gitu. Namun yang disapa hanya melirik sekilas ke arahnya. Itu sudah sering terjadi, bahkan setiap hari. Ngga pernah tuh yang namanya jawab sapaannya Shasa apalagi sekedar senyum "gak pernah!".
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#55
shasa
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • Rieril
  • Matematika
  • Akara Aksa
  • Serumit Rasa: Istri Simpanan Pewaris Tunggal (COMPLETED)
  • COMPLICATED
  • Hallo, Kak Diandra?
  • Cintaku Berawal Dari Sepatu Terbang  ( Bara )
  • THE CLIMB [Completed]
  • Stres In Life

"Iya sih, enggak penting juga. Enggak ada hubungan juga sama gue, cukup tahu aja," Mince mengambil tisu lalu mengusap air mata dan terkekeh. Ia hanyalah sebagian keryawan kecil di sini. "Udah jangan sedih lagi, nanti nyokap lo tambah sedih liat lo kayak gini," "Iya sih," "Makan yuk, udah jam 12 nih, gue laper," Dina menenangkan Mince. Mince menarik nafas menatap form form yang ada di atas meja, "Tapi kerjaan gue banyak," "Udahlah dikerjain nanti aja, lo harus makan dulu biar kuat," "Kuat ngapain?," "Kuat bercinta," timpal Dina. "Itu sih lo, bukan gue," Seketika Dina tertawa ia melirik Mince berdiri di sampingnya, "Bercinta itu asyik tau," "Ya asyiklah, kalau enggak asyik orang enggak mungkin bela-belain bulan madu sampai ke ujung dunia demi buat anak banyak-banyak," ucap Mince asal, melangkah keluar dari office. "Emang lo pernah ngerasain?," "Enggak," "Nanti kalau udah punya pacar dicoba aja," "Ogah," "Enak tau," "Ih apaan sih lo," "Gue pernah coba sama pacar gue, rasanya enak," "Ih ...," "Makanya cari cowok, biar bisa enak-enak," "Ih Dina !, lo apa-apaan sih cerita ginian," "Biar lo tau lah," "Asemmm," Tawa Dina kembali pecah, mereka berjalan menuju EDR. Ia senang melihat Mince kembali tertawa. Ia tahu bahwa wanita cantik ini begitu menyayangi ibunya lebih dari apapun. Sehingga rela menjual barang berharga miliknya demi pengobatan sang bunda. Ia sengaja berbicara seperti ini demi melihat tawa Mince.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan