Cupcake Drum

Cupcake Drum

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 31, 2021
Setiap satu gigit kue manis ini bagai letupan drum yang membahagiakan bagi Nara. Ia tidak bisa berkata apa-apa saat semua orangpun berkata hal serupa. Cupcake stroberinya disukai banyak orang ketika acara lomba pentas seni sekolah. sama seperti Radeon, bahwa setiap pukulan drum yang ia pukul kencang itu sama manisnya dengan Cupcake buatan Nara. Ia takut diabetes karena selalu ingin memakan Cupcake buatan Nara setiap hari. Monas memang selalu terasa panas setiap hari, tapi lebih panas mana ketika Nara melihat banyak gadis di sekeliling Radeon, sedangkan ia bukanlah siapa-siapa di bumi ini. Atau sebaiknya Nara segera bertanya, "Kak, mau beli berapa banyak Cupcakenya? biar bisa langsung aku buatin." bukan membiarkan dirinya berdiri di samping Radeon sedangkan Radeon malah sibuk dengan beberapa gadis yang mengajaknya bicara.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sweetie Pie Corner
  • SI TAMPAN AERO
  • Behind Bullying [END]
  • Bad-Boy (Complete)
  • Cactus...
  • Fake Nerd Boy
  • Autofokus #teenfictproject [COMPLETED]
  • LEOTA (TAMAT) #S3
  • VIRTUAL, Isn't it? {COMPLETED}
  • SATGAS ; Marriage by accident /On going

Bagi Nala Arutala, hidupnya sudah cukup manis dengan keberadaan Pinkie Pie Bakery, usaha kecil-kecilan yang ia jalankan dengan penuh cinta. Ia tidak butuh kejutan, tidak butuh drama, dan jelas tidak butuh seseorang yang suka bikin hidupnya lebih ribet. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain aroma pie yang baru keluar dari oven dan senyum pelanggan yang puas. Tapi segalanya berubah absurd ketika mempertemukannya dengan Elio Leonardo. Cowok dengan tingkah konyol yang tiba-tiba muncul dihidupnya. "Jangan makan di sini kalau cuma mau nyebelin," kata Nala tanpa mengangkat kepala. Elio terkekeh, dengan santainya menggigit pie stroberi ditangannya. "Gimana kalau gue cuma pengen lihat muka bete lo?" Nala menatapnya tajam. "Gimana kalau gue larang lo datang ke sini lagi?" Elio menyeringai, seolah itu adalah tantangan yang menarik. "Nggak bisa. Gue pelanggan setia." Dan di situlah masalahnya. Lama-lama, kue-kue Nala mulai terasa lebih dari sekadar makanan. Setiap gigitan punya cerita, dan setiap pertemuan semakin mengaburkan batas antara iseng dan ketertarikan. Di tengah tugas sekolah, deadline ujian, konflik yang berhamburan dan masa depan yang semakin dekat, satu pertanyaan muncul: Apakah hati yang mulai terbiasa bisa tetap hangat meski waktu terus berjalan? Hi, My Sweetest Pie! •• cover mentahan from @lystudiodesaign

More details
WpActionLinkContent Guidelines