imigrasi
  • WpView
    GELESEN 126
  • WpVote
    Stimmen 36
  • WpPart
    Teile 3
WpMetadataReadAbgeschlossene Geschichte Di., Okt. 20, 2020
"Aku udah nggak peduli lagi sama agama! Aku nggak peduli kalo aku masuk neraka sekalian. Aku nggak mau hidup di sini lagi pokoknya." Yang satu dibunuh, satu dihukum mati, dan yang terakhir bunuh diri. Ketiganya bertemu di antrian imigrasi bandara. Mereka mati dengan harapan akan surga yang berbeda dengan ajaran awam. Namun terkadang kita tidak boleh berharap terlalu tinggi. Terkadang lebih baik kita menyerah, biarkan yang akan terjadi, terjadilah. Que sera, sera.
Alle Rechte vorbehalten
#475
kematian
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Hopeless
  • (TELAH TERBIT) Penulis yang merancang kematian tokoh utamanya.
  • 𝐃𝐈𝐀𝐍𝐓𝐀𝐑𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈𝐀𝐍 [✓]
  • DIARY AURIN(TAMAT)
  • Mengembalikan Ikatan Persaudaraan (End)
  • Iyrin: Di Balik Sayap dan Bisikan
  • Hanya karena itu kalian membenciku? [Boboiboy Taufan Sad] |Complete
  • Impian Untuk Hidup (End)
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien