Panasea

Panasea

  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 73
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 30, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
"Hadir kembali dengan kondisi yang semakin memburuk. Air mata ini tak kunjung redah. Kemana kau Pelangi?" Ujarnya dalam hati dengan menggenggam tangan Dirga. "Pandangannya tak tentu arah. Gelap gulita. Desiran angin pun tak dapat ia dengar. Apakah lagu ini bisa di dengar? Mengungkapkan kesakitan pun ia tak bisa. Hanya kode geraman. Aku yakin kamu bisa. Aku yakin kamu sembuh dan menjadi lelaki yang tampan nan pintar. Inilah janjiku." gumamnya dengan mengelus rambut sahabatnya itu, kemudian melangkah dan menghilang ditelan pintu utama.
All Rights Reserved
#863
setia
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Renjana : Arutala Dirgantara [Completed]
  • Bukan wanita biasa (TAMAT)
  • Di Balik Bayang Asa
  • MIRACLE OF LOVE [Tamat]
  • Pulang Ka Bako
  • Love Race (REVISI)
  • Satria Dirgantara [Complete]
  • Sebuah Rasa
  • 𝐋𝐚𝐤𝐬𝐚𝐧𝐚 𝐁𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐌𝐞𝐫𝐞𝐝𝐮𝐩 (𝐓𝐚𝐦𝐚𝐭)✔️
  • Without Title

TERSEDIA JUGA DI GOODNOVEL DENGAN JUDUL MUNAJAT PERAWAN TUA "Untuk apa kamu cemas? Apa putrimu terlibat masalah?,"tanyaku. "Apa aku harus mengatakan dengan jelas? Apa menurutmu sekalipun kamu tidak peduli dengan sekitar tidak akan ada yang peduli denganmu?,"tanya Dirga membuatku mengambil tangannya. "Terima kasih sudah membantu. Aku berhutang budi padamu,"ucapku enggan berkilah. "Jangan mengatakan hutang budi, jika kamu tidak mau membayar,"ucap Dirga. "Kalau begitu katakan. Apa yang bisa ku lakukan untuk membayarnya?,"tanyaku. "Menikahlah dengan ku,"ucap Dirga membuatku melepaskan tangannya. "Apa kamu sudah gila? Kamu pria yang sudah menikah, Dirga. Kamu terlalu jauh,"ucapku memalingkan wajah. "Tapi aku duda,"skak Dirga membuat wajahku pucat seketika. -&- Setiap knot kecepatan melaju menembus Cakrawala, sejauh itu cinta yang ku tinggalkan di setiap jejak awan. Saat roda-roda pesawat tidak lagi menapak di ujung landasan, tersisa lah keikhlasan menerima semua takdir. Berpangku pada bait ayat Allah yang terus terlantun merdu. Tingginya langit yang bisa ku tembus tidak membuatku sedekat sujud di penghujung sajadah. Jika serdadu hanya bisa mematahkan senapan di ujung pertempuran dan cendekiawan yang saling beradu argumen di atas meja mematahkan kebingungan. Lantas apakah tidak mungkin meminta Pencipta ku mematahkan takdir yang menjerat? Update seminggu 2 kali😁

More details
WpActionLinkContent Guidelines