We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Jeda
  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 21, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Untuk apa ada Ruang? Untuk apa ada jeda di dalam hubungan, Jika pada akhirnya akan menyakiti satu sama lain saja? Apakah Ruang hanya alasan karena ia merasa bosan? Kenapa harus ada ruang jika semua bisa di selesaikan bersama?" Batinnya. Logika Kiran mulai bekerja kembali. Ia menghapus air matanya dan menepis bahwa dirinya terluka saat ini. Ia berusaha menutupi rasa sakitnya dengan egosentrisnya yang tinggi. Kiran siap jika Raka tiba-tiba meninggalkannya, ia tak perduli lagi
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Segitiga Bermuda
  • A L U N A [END]
  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Aderaga [ON GOING]
  • You're Mine
  • RAKA [Completed] ✓
  • RUANG LUKA (END)
  • Sepotong Cinta dari Sahabat Revisi

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines