Jaga Lisan
  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 21, 2020
Nabi Saw bersabda : كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ “ Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim ). Bahwa seseorang cukup di anggap pendusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar apalagi tanpa mempertimbangkan akibatnya,perasaan orang lain dan memahami isinya. Memang berlatih diam itu lebih susah dari belajar bicara Rata-rata manusia membutuhkan waktu paling lama dua tahun dari sejak ia dilahirkan untuk dapat berbicara. Namun butuh puluhan tahun untuk belajar diam dan menjaga lisannya. Tidak semua yang kita dengar harus dibicarakan dan di sampaikan baik itu kepada keluarga,teman,sahabat apalagi orang lain,karena seringkali diam adalah pilihan terbaik yang membawa kebaikan yang lebih besar. Terkadang kita perlu bersikap “pura-pura tidak tahu” atau “pura-pura tidak dengar”,apalagi demi menjaga persatuan dan kedamaian. Bila semua yang kita ketahui selalu kita ungkapkan,kita ceritakan maka seringkali ada hati yang tersakiti dan masalah semakin bermunculan. Jika kita menengok pada sejarah para nabi,para ulama,guru,kita akan menemukan banyak sikap mereka yang memilih untuk diam. Terkadang mereka mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,tapi mereka memilih diam agar masalah itu tidak menjadi semakin besar dan cepat berlalu. Oleh sebab itu kita perlu berlatih menahan diri dalam berbicara. Memang berat namun layak untuk di upayakan, jika kita mementingkan manfaatnya,memikirkan akibat negatifnya,dan mengutamakan nilai persaudaraan,persahabatan,pertemanan dan kerukunan. Seribu teman belum lah banyak,satu musuh sudah terlalu banyak .
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Di Balik Diam [✓]
  • HATI💔 YANG TERPILIH
  • Para Pemilik Nama
  • Tuhan Cinta Kita
  • Apa Boleh Bicara?
  • kau bukan rumah
  • Cinta Dua Arah ( On Going )✨

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines