Kenyataan yang Sesak

Kenyataan yang Sesak

  • WpView
    Reads 378
  • WpVote
    Votes 42
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Mon, Feb 20, 2023
"Kamu cium bau darah gak?" Tanyaku sangat penasaran. Aku memulai untuk membuka pintu kamarnya sedikit, bau anyir darah menyeruak kuat masuk ke dalam hidungku, lalu aku membuka pintu itu lebih lebar. *** Sepenggal kisah seorang gadis yang terpuruk dalam penyesalan. Tentang seorang remaja laki-laki yang terus rela untuk memendam perasaan cintanya, padahal dengan cara itu ia dapat menyakiti hati dan fisiknya, ia hanya ingin melihatnya tersenyum bahagia.
All Rights Reserved
#417
penyesalan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • AKU TAK PERCAYA CINTA, AYAH! (TAMAT)
  • Hoping Better
  • How to Burn the Bad Boy (END)
  • Lalu, aku ini siapa? [COMPLETE]
  • Cold as Ice Cubes (END)
  • Too Late To Realize (END)
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • Dear Dosen
  • Diary Zofanya
  • Regrets of Love

"Aku nggak tahu, dari mana semuanya menjadi retak dan berantakan seperti ini. Yang kuingat, hanya ada satu titik ketika hidupku berubah drastis. Ibuku pergi meninggalkan rumah bersama dengan lelaki lain. Meski ayahku tegar dan tabah, pada akhirnya dia menyerah dan menikah dengan wanita pilihannya. Brian, adalah satu-satunya tempat dan rumah terakhir yang aku harapkan. Tetapi, dia pun juga menorehkan luka yang tak bisa kumaafkan. Aku tak lagi percaya pada cinta, Ayah. Tak lagi." ~ Serena Azura Auliana~ :+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+ Serena telah kehilangan kepercayaannya pada cinta. Semua orang yang pernah ia cintai, yang begitu ia percayai dan anggap berarti dalam hidupnya, ternyata dengan mudah menghianati cinta itu. Hatinya hancur berkeping-keping. Bukan sekadar patah-tapi benar-benar remuk, hingga tak tersisa apa pun selain reruntuhan yang menyakitkan. Tak ada lagi yang tertinggal, kecuali kekecewaan yang dalam, dan trauma yang perlahan menggerogoti jiwa.

More details
WpActionLinkContent Guidelines