School Flowers

School Flowers

  • WpView
    Reads 0
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 5, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
"Yah, Bunda itu apa ya? ". Tanya gue. Tanpa menoleh ayah gue menjawab, "Bunda itu artinya sama kayak ibu kamu". Karena saat itu gue masih kecil dan barnalar agak susah, dan tidak terlalu masuk akal. Gue menjawab, " Masak sih, tapi kok itu beda, gak ada mirip-miripnya ". Tanpa menoleh lagi, ayah gue bertanya. " Mirip apa?". "Mirip itu loh, kayak di TV".gue tunjuk tuh TV, tepat wajah yang namanya bunda. Ayah gue menoleh ke gue, lalu menoleh apa yang gue tunjuk. "Itu bukan ibu kamu.. ". Belum selesai ayah gue bicara, gue langsung balas, " Tapi kata ayah, Ibu kayak bunda. Tapi itu kok nggak sama".cerocor gue. Ayah gue geleng-geleng kepala, entah apa yang terjadi dengan kepalanya. "Ayah belum selesai bicara, kamu itu ya, orang tua bicara nggak boleh menyela".tegur ayah gue. Sedangkan gue yang ditegur hanya bisa menundukkan kepala sambil cengengesan. Hehe. " Iya yah, maaf ". " Yaudah nggak papa, yang penting jangan di ulangi". "Jadi, Ibu sama bunda itu hurufnya dan membacanya beda, tapi artinya sama. Seperti, Ayah atau Bapak atau Papa bisa jadi dipanggil Dad juga. Semuanya artinya sama kayak ayah. Tinggal nyamannya aja gimana manggilnya".lanjut ayah. Walaupun penjelasannya panjang, gue masih memahami artinya. Gue menundukkan kepala gue dan berpikir sebentar, lalu gue berkata. " Kalau gitu Ibu dipanggil Bunda aja yah". "Kenapa? ".tanya ayah gue. Berpikir sebentar, lalu gue menjawab. "Ya, nyaman aja".kata gue acuh. " Nyamannya gimana? ".tanya ayah gue lagi. " Ya, nyaman aja". Nggak mungkin kan gue bilang kalau gue iri, soalnya ada lagunya. Ayah yang tau isi kepalanya"... " Hehe.
All Rights Reserved
#23
ramansa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GRAVARENZO
  • GHAIKA (REVISI)
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • The Time

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines