Sofia
  • WpView
    Reads 94
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 4, 2020
Sofia binti Markamah. Lahir ke dunia tak diakui sebagai anak bapaknya. Ia tumbuh tanpa tahu siapa sosok bapaknya dan terpisah dari kehidupan ibunya. Di pusat daulah Islam, Sofia menghabiskan masa kecil hingga dewasa. Kehidupan yang nyaris sempurna bersama keluarga Al-Alamah Al-Qadhi Al-Qudlat Salim, seketika berubah tatkala seorang pemuda dari Timur Jauh dinyatakan sebagai pamannya. Akankah Sofia menemukan jalur nasabnya? Lalu bagaimana bisa Sofia hidup bersama keluarga Qadhi Salim? Berhasilkah Sofia menemukan ibu dan bapaknya dalam suasana perang pemberontakan wali negeri Timur Jauh? Bagaimana sikap Khalifah menangani pemberontakan? Inilah kisah yang akan mengajak pembaca berpikir tentang bagaimana Islam mengatur pernasaban hingga detail aturan negara.
All Rights Reserved
#43
fiksiislami
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • My Love is on Paper
  • Love of eternity
  • When you love someone (END)
  • 48 FAMILY RESTAURANT ( JKT48 Gen 12 Fanfic)
  • Cinta Dalam Do'a {SELESAI}
  • Antara Dendam dan Cinta
  • ANDAI AKU BISA
  • Surah Hafalan untuk Ustadz (TELAH TERBIT)
  • Ketos Galak

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines