Shot on Yokohama!

Shot on Yokohama!

  • WpView
    LECTURAS 55
  • WpVote
    Votos 2
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, may 14, 2022
Ashkan yang seorang fotografer dan backpacker muda kembali menjejaki dirinya di Jepang. Ia merayakan kesuksesannya berkeliling dunia bersama ibunya yang seorang backpaker professional. Ia kembali bernostalgia soal kenangan manisnya dengan kota Yokohama, tempat ia dibesarkan sekaligus titik 0 mereka memulai petualangan. Sesampainya di Apartemen, ibunya menceritakan kisah singkat cintanya dengan ayah Ashkan, hingga Ashkan tertidur tanpa menyadari ibunya meninggalkan apartemen itu dengan sepucuk kertas. Pukul 7 pagi, Ashkan terkejut menyadari ibunya tak ada di kamar dan meninggalkan sebuah surat bertuliskan "Ibu menitip tempat ini padamu dan kenangan ibu disini, Ibu akan mencari Ayahmu. Carilah makna dan cinta yang sama dengan ibu disini" Ashkan pun hanya bisa termenung, namun ia tak bisa berbuat banyak. Ia tidak memiliki petunjuk kemana ibunya pergi. Hal yang yang tersisa selain surat itu adalah amplop berisi lembaran yen dan surat undangan sekolah. Ashkan harus kembali mengawali lembaran hidup di tanah kelahirannya
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • It's Always Been You✔️
  • The Glasses Girl [END]
  • Renjana [COMPLETED]
  • Surat Untukmu
  • Espoir
  • Dua cangkir satu Meja
  • Renjana
  • 7DREAM | Transmigrasi Jeno ✓
  • Kidnapping the General's Daughter

Winter, gadis skater serba bisa dari Thunder Clan, merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk ketika papanya tiba-tiba meminta, atau lebih tepatnya memaksanya untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga teman orang tuanya. "Kalau adek nggak mau, papa bakal bakar semua deck yang rapi tertata di kamar adek sampai jadi abu." Ancaman itu langsung menusuk hati Winter. Deck-deck itu bukan sekadar papan luncur. Mereka adalah bagian dari dirinya, saksi setiap kompetisi dan penopang semangatnya. Mana mungkin ia membiarkannya jadi korban amukan sang papa? Dengan terpaksa, ia pun menyanggupi pekerjaan itu meski artinya harus membagi waktu antara kuliah di Universitas Kwangya dan mengurus rumah keluarga majikannya. Merawat empat anak di rumah itu sebenarnya bukan tantangan besar untuk Winter. Ia bisa dengan mudah mengatasi kelakuan si kembar usil, Jisung dan Ningning yang berusia tujuh belas tahun, juga kepolosan Sakuya yang berusia sebelas tahun dan si kecil Ian yang baru enam tahun. Semua terasa terkendali kecuali satu hal: Jaemin, si sulung yang tampaknya menjadikan Winter sebagai target utama untuk mencari-cari kesalahan. "Bener kamu jago masak? Yakin nggak bakal mati kalau makan masakan kamu?" "Otaknya pinter atau nggak sih? Sayang banget masa muda kebuang percuma. Kamu nggak minat nyambung kuliah?" "Baru pagi-pagi aja udah ngilang. Kamu ke mana emang?" Sumpah, kalau saja Jaemin bukan anak majikannya, Winter sudah lama melibas pria itu dengan deck kesayangannya. Menyebalkan bukan main. Namun, di balik semua adu mulut dan tatapan sinis itu, ada sesuatu yang samar. Perasaan yang pelan-pelan menyusup, tapi tak mungkin mereka akui. Di tengah kesibukan menjadi mahasiswa sekaligus satu-satunya gadis di Thunder Clan, mampukah Winter bertahan menghadapi kelakuan Jaemin yang seakan bisa meruntuhkan dunia? Dan apa yang akan terjadi ketika Jisung, Ningning, Sakuya dan Ian mulai menganggap Winter sebagai kakak mereka sendiri?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido