Seharusnya

Seharusnya

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 26, 2020
Gak ada yang tau, kapan mimpi itu menjadi nyata. Kita pun gak tau, kapan kita senang, kapan kita sedih, kapan kita merasa kehilangan, dan.. kapan kita mati. Setiap langkah, memiliki tanggung jawab yang besar. Tidak jarang mengalami penyesalan. Setiap keputusan selalu menentukan kemana kita akan pergi. Kemana kita akan tumbuh. Kemana kita akan hidup dan berkembang. Kemana kita akan hilang. Nama nya Linka. Perempuan yang terkurung dalam bayang bayang penyesalan. Ia telah berhasil mewujudkan mimpi nya. Ia juga merupakan perempuan yang sukses. Tapi, tidak ada kesenangan yang nampak di wajah nya. Hidupnya penuh dengan penyesalan. "Seharusnya" merupakan cerita tentang bagaimana Linka melewati setiap penyesalan yang ada. Bergantung pada setiap keputusan yang dikeluarkan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Sunyi
  • ARUNA Dalam Diam, Aku Tumbuh
  • Hope Was My Mistake
  • THANK YOU MAHESA
  • DIARY AURIN(TAMAT)
  • Bucin Ala Al [END]
  • Di Kota Tempat Kamu Berada

Arunika, gadis ceria yang selalu tampak kuat di hadapan teman-temannya, menyimpan luka yang tak terlihat. Di rumah, ia merasa asing dengan kedua orang tuanya-seolah menjadi tamu di tempat yang seharusnya ia sebut rumah. Kakak yang paling ia sayangi telah pergi meninggalkannya, membuat rumah terasa semakin sepi. Satu-satunya tempatnya bersandar adalah sang oma, wanita yang selalu menghangatkan hatinya dengan kasih sayang tanpa syarat. Namun, takdir kembali menguji Arunika. Evan, sosok yang ia percaya akan selalu ada, justru membuatnya kecewa. Dan ketika dunia terasa semakin berat, oma yang paling ia miliki pun pergi meninggalkannya selamanya. Di sekolah, Arunika masih mencoba tersenyum, seolah tak ada yang terjadi. Ia berusaha tetap tegar, meski hatinya perlahan terkikis oleh kehilangan demi kehilangan. Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan, ada satu tempat di mana ia bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri-danau yang tenang, tempat pelariannya dari dunia yang terus melukainya. Di tepi danau itulah, Arunika merangkai ulang kepingan hatinya yang hancur. Tapi, sampai kapan ia bisa bertahan? Akankah Arunika mampu melewati semuanya dan menemukan kembali cahaya di hidupnya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines