Pada tahun 1947, Bali sedang bergolak hebat di tengah perjuangan bangsa merebut kemerdekaan. Di tengah pengorbanan, darah dan air mata, dua kisah cinta tak lazim lahir dari panggung budaya dan medan perang, membawa pembaca menyusuri jalan penuh keindahan kebudayaan , pengkhianatan cinta , dan pengorbanan harga diri. Gusti Ayu Agung Tirta Sari, seorang penari cantik jelita dari kasta tertinggi, terperangkap dalam pesona seorang penari sederhana, I Putu Giri, yang berasal dari kasta terendah. Mereka menjadi saksi sekaligus pelaku lahirnya tarian-tarian legendaris Bali. Namun, perbedaan kasta menjadi tembok kokoh yang memisahkan mereka. Demi kehormatan Gusti Ayu dan demi kebebasan Bali, I Putu Giri melepaskan cintanya dan memilih angkat senjata, bergabung dengan pasukan di bawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai. Dalam perang heroik yang mengubah sejarah, Putu Giri menemui ajalnya-jalan akhir yang ia pilih untuk menghindari pernikahan yang ditabukan oleh adat. Sementara itu, Gusti Ayu menghadapi godaan cinta dari sosok yang justru menjadi musuh rakyatnya: seorang mata-mata Belanda yang membawa janji perlindungan di tengah bayang-bayang bahaya. Dalam dilema yang menghimpit, Gusti Ayu menyerah pada takdir yang memaksanya meninggalkan tanah kelahirannya. Bersama pria yang dibenci rakyat Bali, ia terbang ke negeri asing, meninggalkan semua yang ia cintai demi sebuah alasan yang hanya ia mengerti. Ni Melong adalah sebuah kisah yang akan menggetarkan hati dan menggugah pikiran bahwa cinta tak memilih tempat , waktu dan orang. Sebuah kisah cinta yang melampui segala hal yang bisa dipikirkan orang saat itu . Sebuah kisah cinta yang di iringi oleh tari tarian Bali kolosal yang maha indah, bunyi Gong yang membahana dan segenap pernak pernik budaya, adat istiadat bercampur dengan sejarah kelam perjuangan yang merah pekat dengan darah para pahlawan. .
Detail lengkap